• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 16.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 085232841193
  • SMS/WA: 085232841193
  • Line : -
  • BBM : -
  • pustakaintermedia@yahoo.com
Terpopuler:

Cerpen “Aku Bukan Binatang”

11 June 2020 - Kategori Blog

CERPEN KARYA AMIN MUSTOFA*)

“Kang… ! Kang… ! Kang… !”

Kataku sambil menyentuh pundak kang Parjo.

Ah… ada apa sih kok rebut terus?” jawab kang Parjo yang saat itu tampak sedang mengantuk.

“Bangun dong….! Kataku.

Kang Parjo hanya mengubah posisi tidurnya. Ia tidak menggubrisku. Meski saat itu kapal yang aku tumpangi sedikit bergoyang-goyang, tetapi kang Parjo masih tetap tidur lelap. Sementara malam itu, para penumpang lain pada sudah banyak yang tidur. Entah mengapa, hingga malam itu mataku belum juga mengantuk. Kubuka lembaran Koran bekas yang ada di depanku, tetapi aku sudah mulai bosan, sebab hampir semua tulisan sudah kubaca. Mulai berita utama, opini, artikel sampai iklan pun semua sudah menghafalnya. Tidak ada jalan lain untuk mengobati rasa jenuhku selama dua hari berada di kapal kecuali dengan membangunkan kang Parjo.

“Itu kapal yang kita tumpangi sudah bersandar. Kita sampai kang. Kita telah sampai kang, ayo bangun kang! Ayo kita turun!” Kataku.

Namun kang Parjo tidak juga menggrubisku. Tampaknya kang Parjo mengetahui bahwa apa yang kukatakan adalah tipuan. Sebab mustahil kapal yang kutumpangi secepat itu sudah sampai. Aku harus cari cara lain untuk menarik perhatian kang Parjo sehingga Kang Parjo segera bangun.

“Astaghtaghfirullahalazim… cewek itu cantik banget! Kulitnya putih bagai bintang iklan sabun mandi di TV. Rambutnya, hidungnya, bibirnya, pahanya, ah… . Eh… dia menuju kemari. Dia tersenyum padaku. Oh… “Kataku.

Spontan kang Parjo terbangun. Dengan cepat dia membersihkan ketek di sudut matanya. Ia pun merapikan baju, mengusap tetesan iler di sudut mulutnya. Lantas ia menyisir rambutnya dengan jemari tanganya.

“Mana? Mana dik? Mana cewek yang kau katakan tadi?” Kata kang Parjo.

Akupun tertawa ngakak. Kali ini kang Parjo tertipu. Sebab cewek yang kuceritakan tersebut hanya tipuan untuk membangunkan kang Parjo. Sadar akan tipuanku, Kang Parjo pun kecewa.

Kang Parjo memang sudah lumayan tua usianya, tetapi untuk urusan cewek, ia masih muda. Gairahnya masih menggebu-gebu. Aku yang adiknya terkadang kalah dengan Kang Parjo. Maklumlah Kang Parjo sudah setahun yang lalu menduda. Aku tidak tahu pasti alasan kang Parjo bercerai dengan istrinya. Ah… lupakan tentang masa lalu Kang Parjo. Yang penting saat ini aku harus mencari topik bahasan yang menarik untuk aku bicarakan dengan kang Parjo. Dengan demikian kang Parjo tidak akan tidur.

“Kang…”

“Ada apa to dik?” Jawab kang Parjo.

“Kamu tahu apa tidak beberapa hari yang lalu kota Slompretan sedang geger, Kang” Kataku.

“Lho, geger bagaimana? Ada demonstrasi? Banyak buruh yang minta gajinya dinaikkan? Atau… “
“Ah, kamu ini sok tahu, Kang, seperti pengamat ekonomi dan politik saja. Bukan. Bukan itu, nah ini ceritanya kang. Dengarkan ya. Malam itu kota Slompretan yang sudah mulai sepi tiba-tiba terdengar suara :

“Maling… !”
“Maling… !”
“Maling… !”

Suara keras tersebut bersumber dari sudut kelurahan. Selang beberapa saat terdengar bunyi kentongan yang segera di sambut oleh para warga mereka pun dengan cepat berlari menuju sumber suara itu.

Tampak beberapa orang sedang membawa linggis. Sebagian lagi membawa kayu bambu yang jika disantapkan ke kepala kucing, dijamin kucing tersebut akan remuk. Sebagian lagi mereka membawa parang, sabit, bahkan ada juga yang membawa golok. Semua penduduk yang berada di Gang Slompretan itu beramai-ramai mengejar maling.

Meski para warga di kelurahan tersebut tergolong orang-orang berduit yang jika ada kerja bakti banyak di antara mereka yang mereka ogah mengikuti yang mereka lebih memilih membayar sejumlah uang saja dari pada ikut kerja bakti, tetapi untuk urusan seperti itu, mereka tidak perlu diundang sudah dating semua.

“He…he…kang bangun domg… ! kok ceritaku tidak didengarkan?” kataku.
“Iya…iya… sudah sampai mana ceritanya? Saya dengarkan kok. Ayo lanjutkan ceritanya”. Kata kang Parjo.

Nah… begini kelanjutan ceritanya.
Para warga kota itu sedang sibuk mengejar maling itu. Sebagian di antara mereka ada yang menghubungi polisi. Sebagian lagi bersama pak lurah mengejar maling.

“Kemana malingnya tadi?” Tanya pak lurah.
“Berlari ke sana Pak”. Jawab Prapto, warga yang juga ikut mengejar maling bersama pak lurah.

Dengan segera pak lurah berlari menuju kea rah yang ditunjuk oleh lelaki itu. Di belakangnya diikuti oleh puluhan massa yang siap menggayang maling itu.

“Ayo….”.
“Ya, ayo…”
“Ayo… ayo… !”

Tangan pak lurah melambai-lambai memberi semangat pada masyarakat untuk bergotong-royong mengejar maling yang malam itu begitu cepar berlari. Sementara mendung kian merayap menutup rembulan yang malam itu tampak sep[aruh. Angin dingin menyusup ranting pepohonan dan mengoyal rerumputan. Memang sudah beberapa hari kota Slompretan dijarah maling.

Kota Slompretan memang tempat bermukim para pejabat berpandang, kang. Di kota tersebut juga ada sebuah vila milik putra wali kota. Sementara tidak jauh dari vila, tampak perumahan elit yang nyaris bagai istana ratu bulqis. Begitu mewah. Yang bermukim di perumahan itu tentu bukan orang sembarangan, lho kang.

Kang Parjo tahu atau tidak? Para kuli bangunan, buruh tani, pedagang asongan tentu tidak mampu membeli rumah dikompleks itu. Jangankan membeli, mengontrak pun mereka tidak akan mampu. Gaji mereka hanya cukup untuk mengontrak pagar rumah saja. Apa lagi gaji para guru swasta, tentu tidak akan cukup untuk mengontrak rumah di kompleks itu kang. Kecuali guru tersebut harus rela berpuasa dan tidak perlu menyekolahkan anaknya, istrinya pun harus bersedia berpuasa. Lantas gaji guru tersebut di tabung sampai hari kiamat. Nah, dengan cara itu kang, maka guru swasta akan bisa tinggal di kompleks perumahan itu. Tapi kang, ah… persetan dengan gaji itu. Cerita tentang maling saya lanjutkan kang. Tapi syaratnya kang Parjo harus mendengarkan. Oke?” Kataku.

“Ya… iya jangan khawatir! Kata kang Parjo sambil sedikit mengantuk.
Pak lurah dan rombonganya terus berlari mengejar maling tersebut. Semangat pak lurah itu memang patut ditiru lho, Kang. Soalnya jarang sekali pemimpin yang seperti pak lurah di kota Slompretan itu. Kadang-kadang saat ini pemimpin hanya berteriak mengajak orang yang dipimpin untuk berlari, tetapi begitu orang-orang sudah berlari, eh pemimpin malah enak- enakan.

“Iya…. memang zaman sudah begitu, Dik. Terus bagaimana kelanjutan ceritanya?” Kata kang Parjo.

Nah, kang Parjo penasaran kan? Saya lanjutkan ceritanya. Pak lurah berlari tampak sempoyongan. Keringat menetes di sekujur tubuhnya. Begitu juga dengan warga yang mengikutinya. Tetapi rasa capek mereka tiba-tiba lenyap setelah mata mereka menangkap kelebatan kedua lelaki berkaos putih dan berbaju kotak-kotak yang tampak dari kejahuan.

Memang malam itu yang tampak hanya kaos putih dan baju kotak-kotak lelaki itu saja, sebab mereka sudah sampai di area sawah yang jauh dari keramaian kota dan tentu saja tidak ada lampu yang menerangi mereka. Tetapi pak lurah beserta rombonganya terus memburunya. Tiba-tiba dua lelaki itu terdengar berteriak minta tolong sambil berlari kencang. Pak lurah dan para warga menganggap teriakan dua lelaki itu hanya sekadar tipuan untuk merayu pak lurah dan para warga agar berbelas kasihan.

Pak lurah dan para warga terus memburu. Aneh tiba-tiba dua lelaki itu tinggal satu saja, yaitu lelaki berkaos putih. Sedangkan lelaki berbaju kotak-kotak tampak menghilang. Tetapi itu buka alasan lho Kang untuk mengurungkan niat mereka. Yang pasti saat itu kesabaran warga yang sudah habis. Mereka sudah sepakat untuk membantai maling itu.

Pak lurah semakin cepat berlari. Begitu juga dengan para warga. Sementara jarak antara pak lurah dengan lelaki berkaos putih tersebut semakin dekat. Tiba-tiba lelaki berkaos putih itu menoleh ke belakang. Ia tampak kaget ketika melihat puluhan warga sedang membawa senjata tajam bagi mau perang dengan berlari menuju ke arahnya. Lelaki tersebut dengan cepat berlari. Menerjang ilalang, melompati parit. Nafasnya ngos-ngosan.

He…he… ada apa ini?” Lata lelaki itu sambil berlari.

“Maling…maling… ayo kejar dia jangan diberi ampun”. Kata paklurah dan para warga.

“Tolong… tolong…!” Lata lelaki berkaos putih tersebut. Meski malam begitu gelap, tetapi pak lurah dan para warga tidak peduli. Ia tetpa mengejar lelaki itu. Sementara lelaki itu tampaknya sudah tidak kuat. Ia berlari menuju kea rah kantor polisi, tetapi kantor polisimasih begitu jauh. Lelaki itu terus berteriak minta tolong, tetapi masyarakat tidak menggubris. Beberapa saat tiba-tiba sebauh linggis di lempar oleh seorang warga yang menyantap tepat pada kepala lelaki berkaos putih itu pun jatuh sempoyongan.

Dengan cepat pula puluhan warga mengeroyok lelaki berkaos putih tersebut. Kayu, linggis, batu dan sejumlah senjata ampuh lainya bertubi-tubi mengenai tubuh dan kepala lelaki berkaos putih tersebut. Lelaki berkaos putih itu pun tak sadarkan diri. Darah segar muncrat dari tubuh dan kepala lelaki itu. Kepalanya tampak nyonyor. Meski malam begitu gelap, para warga tidak peduli. Mereka terus mengeroyok. Linggis yang dipegang para warga bertubi-tubi menghantamkan kepala lelaki itu. Tiba-tiba di antara kerumunan warga tampak seseorang yang menyiramkan bensin ke arah pemuda itu. Dengan cepat disusul sebuah api yang menjular dari korek api. Tubuh lelaki berkaos putih itu pun diganyang oleh api yang menyala begitu hebatnya.

Tiba-tiba pak lurah dan para warga dikagetkan oleh suara orang yang sedang ramai-ramai dari kejahuan.

“Pak…pak…ini malingnya. Tampak dari kejahuan lelaki berbaju kotak-kotak datang besama dengan seorang maling yang sedang dikeler polisi. Pak lurah dan para warga tampak bengong.

“Lho …siapa dia, Pak?” Tanya pak lurah dan para warga pada lelaki berbaju kotak-kotak.

Lelaki berbaju kotak-kotak pun menjawab, “Bapak ini bagaimana sih? Lelaki yang di keler polisi ini yang seharusnya ditangkap”.

“Lantas siapa yang kita bakar ini?” Kata sebagian warga.

“Lelaki berkaos putih tadi, ya? Tubuhnya tinggi ? Dempal ? Bercelana levis berwarna biru ?” Tanya lelaki berbaju kotak-kotak.

“Ia betul…betul…” Jawab warga dengan serempak.

Tadi saya berteriak meminta tolong saat bapak-bapak mengejar saya. Saya berteriak minta tolong dengan maksud menjelaskan bahwa saya dengan lelakiberbaju puith ini bukan maling, tapi kalian semua malah menyerbu saya dan sedikit pun saya tidak diberi kesempatan. Untung saya bisa menyelamatkan diri. Kamu tahu siapa lelaki berkaos putih itu? Siapa? Ha siapa?” Tanya lelaki berbaju kotak-kotak.

Pak lurah dan para warga semua diam. Polisi diam. Maling yang dikeler polisi pun diam.

“Ayo jab! Jawab! Dia itu Joko, anak pak lurah”. Kata lelaki berbaju kotak-kotak dengan wajah dan suara pilu sambil sudut matanya meneteskan air mata.

Dengan cepat pak lurah menjerit. Menangis sejadi-jadinya namun semua telah terlambat. Lelaki berkaos putih tersebut kini tak lagi berkaos putih. Semua telah berubah menjadi hitam. Gosong.

“Nah begitu ceritanya, Kang. He… kang…kang…jangan nangis dong…! kamu kok nangis? Ah…Kang Parjo nangis ya?” Kataku.

“Ah… aku sedih mendengar ceritamu itu dik!” Kata kang Parjo.

“Ah, kang Parjo tidak usah sedih. Ini kopinya diminum dulu. Sebentar lagi kapal akan segera sampai di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Eh, kang bagaimana ceritaku tadi asyik kan?” Kataku.

“Asyik bagaimana, cerita tragis begitu kok dibilang asyik?” Kata kang Parjo dengan heran.

“Oalah kang…kang… itu bukan cerita sungguhan. Cerita yang baru saja kuceritakan pada kang Parjo adalah cerpenku yang baru saja ku tulis dan kukirim ke sebuah koran”. Kataku.

Mendengar itu, kang Parjo tampak kecewa. Aku pun tertawa ngakak.

Surabaya, Mei 2005

SUMBER FOTO ILUSTRASI CERPEN
https://www.google.com/search?
—————————-

*) Amin Mustofa lahir di Bojonegoro, 29 Agustus 1983. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini pernah menjadi wartawan majalah Gelanggang Mahasiswa Unisda Lamongan (2003) dan menjadi pemimpin redaksi majalah Gelanggang Mahasiswa (2004- 2007).

Karya tulisnya berupa cerpen dan artikel dimuat di Koran Radar Bojonegoro di antaranya, “Gombal” (2006), Profesionalisme Guru, Cukupkah dengan Portofolio? (2007), Sistem Gurui Guru untuk Pragmatis (2008), Pak dhe Kusmanto (2008), Di Balik Rencana Pemkab Bojonegoro Bangun Perpustakaan: Siapkan Pula Formula Penjaga Eksistensi (2010), dan Sambut Unas dengan Gembira (2014). Artikelnya juga dimuat di koran Jawa Pos, di antaranya; Menulis Puisi dengan Metode Kuantum (2008), Hentikan Curhat Bersama Anjas (2009), Protes Miyabi Jangan Berlebihan (2009), Dilema Sanksi Siswa: Kekerasan Atau pendidikan? (Suarabojonegoro.com, 2017).

Karya tulisnya berupa buku: buku antologi cerpen, Kamboja Menapak Mega, (Penerbit Pustaka Ilalang 2005 dan Penerbit Pustaka Intermedia 2014), Buku Pintar Bahasa Indonesia (Penerbit Lentera Ilmu Yogyakarta, 2006), dan modul Jurnalistik itu Asyik (2010), Buku Detik- Detik Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMK Enam Edisi (Edisi I 2014 s.d. Edisi VI 2019), Buku Terampil Menulis Karya Ilmiah Remaja (2018), Buku Antologi Cerpen Tuah Akik Panidin (2019), Dongeng Anak Jajanan Pasar: Pengenalan Jajanan Pasar dan Kearifan Lokal Budaya Bojonegoro pada Anak SD melalui Kisah Inpiratif (2019), dan buku “Penuntun Teknis Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik” (2020).

Penulis juga editor bahasa. Sampai Juni 2020 ini, sudah 170 judul buku karya penulis nasional (NTB, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Riau, Banten, Yogyakarta, Jateng, Jatim, dan dari Provisi lain di nusantara) yang dieditori dan sudah terbit. Email: aminmustofaoke@yahoo.co.id

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,