• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 16.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 085232841193
  • SMS/WA: 085232841193
  • Line : -
  • BBM : -
  • pustakaintermedia@yahoo.com
Terpopuler:

Cerpen “Bajol”

11 June 2020 - Kategori Blog

KARYA: AMIN MUSTOFA

“ Cokro berbadan tegap itu ? Rambutnya cepak? Berkumis tebal dan bertubuh dempal? tanya lelaki itu pada Parmi.

“Iya, betul, Pak. Sekarang dia di mana, Pak? Bagaimana keadaanya? Kerja di mana sekarang dia, Pak? Tanya Parmi dengan gugupnya.

“Memang dia tinggal di sini beberapa bulan, tetapi aku tidak tahu pasti dia bekerja di mana. Sebulan yang lalu, ia keluar dari rumah ini. Katanya, ia pindah ke kantor cabang baru. Coba kamu cari di jalan Pandega nomor empat belas, sebab, lelaki itu di sana . mungkin dapat kamu tanyai tentang keberadaan Cokro,” kata lelaki itu.

“Atau kamu cari saja di rumah orang tuanya di Jakarta,” tambahannya
“Saya tidak tahu pasti di mana alamat nya. Bapak tahu?” Tanya Parmi
Mendengar pertanyaan itu. Lelaki itu menggeleng kepala

Sejenak Parmi diam. Napasnya terasa berat bagai aliran air got yang tersumbat tumpukan sampah. Dengan segera, ia meninggalkan gang sempit itu. Ia terus melangkah. Mukanya pucat bagai mayat, tetunduk lesu bagai bunga layu. Wanita itu merasa mentok, kehabisan akal. Kepalanya seolah pecah bagai gelas kaca yang dibanting keras dilantai, sebab sekian banyak informasi yang ia dapat dari orang yang ditemuinya, semuanya tidak membuahkan hasil yang menggembirakan. Cokro tetap tidak ditemukan.

Tadi pagi, ketika Parmi baru turun dari kereta api, ia langsung naik angkot dan turun di jalan Tidar nomor empat. sebab kartu nama yang dipegangnya mengabarkan bahwa Cokro beralamatkan di sana, tetapi ternyata juga tidak membuhkan hasil yang mampu membuat wajah wanita itu untuk tersenyum. Setelah itu, ia langsung menuju ke jalan Pencindilan, depan supermarket, sebelah timur tugu pahlawan. Semua hasilnya sama. Tak seorangpun yang mengetahuinya dengan pasti keberadaan Cokro, kekasihnya.

Saat itu, kendaraan yang berlalu – lalang tak jua ada habisnya. Asap hitam tampak menyembur dari knalpot bus kota. Hawa panas terasa membakar kulit beriring dengan kepulan debu di sepanjang jalan itu yang kemudian debu tersbut menempel di kaca setiap kendaraan yang melintas, menempel di pagar– pagar kantor, di ranting pepohonan, di bibir trotoar, juga menempel di rambut dan baju Parmi yang menjadikannya kian dekil. Matanya penuh harap bagai tumbuhan kering di musim kemarau yang merindukan tetesan hujan. Wajahnya pilu dan napasnya terasa berat. Tak sedekit pun senyum terlintas di wajahnya. Langkahnya gontai seolah hendak ndelosori di trotoar. Sudah sejak pagi tadi, ia berjalan menjelajahi kota ini. Melewati jalan protokol, masuk gang sempit, masuk kompleks kos – kosan, keluar lagi hingga sampai di jalan ini.

Sesampai di jalan ini, Parmi mematung. Wanita itu teringat beberapa bulan yang lalu. Yah, jalan ini menjadi saksi percintaan Parmi dengan Cokro. Tempat ini merupakan tempat yang bersejarah bagi Parmi, sebab di jalan ini dulu Parmi pertama kali bertemu dengan Cokro.

Di jalan ini, dulu Cokro mengajak Parmi berkenalan. Dulu, di jalan ini, Cokro merayu Parmi yang akhirnya Parmi pun jatuh hati.

Di jalan ini, dulu setiap malam Cokro selalu menunggu Parmi. Di jalan ini pula, dulu, Cokro mengajak Parmi ke taman kota, sebelah timur alun– alun kota ini.

Taman kota yang indah . Kala itu, embun masih begitu mekar. Gerombolan kupu-kupu menari dan berdansa di sana yang kemudian bertengger kemudian disusul kupu – kupu lain. Mereka begitu asyik memasukkan belalainya di atas bunga itu. Tak begitu lama, mereka pun terbang dengan cepat. Kegembiraan kupu-kupu terusik ketika tangkai bunga itu bergoyang lantaran tersentuh tangan Parmi yang saat itu melakukan perbuatan layaknya suami istri dengan pacarnya itu.

Kala itu, Parmi yang sebelumnya begitu menolak ajakan Cokro, ternyata saat ini lain. Setelah gadis itu diberondong oleh Cokro dengan kata – kata manis, gadis itu pun tak kuasa mendengarnya.

Tetapi . . .
Heh , sudah bosan hidup, ya! Kalau ngelamun jangan dijalan! Sialan! Bentak sopir truk yang sedang mengendarai truknya.

Sontak lelamunan parmi buyar. Ia segera meloncat menghindari santapan truk itu. Semua kenangan indah saat parmi bercumbu dengan Cokro pun lenyap sekejap.

Ia baru sadar bahwa semua itu telah berlalu. Semua kenikmatan itu hanya sekejap dan kini berwujud petaka.

Karena rayuan manis yang meletup dari mulut Cokro, kegadisan Parmi telah dirampok oleh Cokro. Kini, parmi pun harus membiarkan perutnya kian melar.

Saat ini, bukan waktunya untuk menganang masa indah, tetapi Parmi harus berpikir keras bagaimana menemukan Cokro yang kemudian diajakanya untuk segera menikah.

Sebab, kini wanita itu telah berubah total. Ia tidak lagi seperti yang dulu. Dulu, Parmi masih hidup serba bebas bagai ikan di laut lepas. Ia bebas pergi ke mana pun yang disuka. Pergi ke kota, berangkat ke pabrik untuk bekerja, nonton bioskop, pulang naik angkot, ia pun pulang ke kampung halamannnya untuk melepas rindu pada kedua orang tuanya. Kini, semua itu tidak lagi.

Memang Parmi masih bisa seperti yang dulu, tetapi untuk pulang kampung, mengunjungi kedua orang tuanya itu jelas mungkin, sebab jika wanita itu tetap nekat pulang kampung, para tetangga akan membelenggu wanita itu. Mereka siap memperbicangkan perut Parmi yang hari demi hari kian membuncit.

Para tetangga akan bertanya, “Parmi kapan kamu menikah?
Siapa suamimu? Rumahnya mana? Apa pekerjannya? Pegawai negeri atau swasta? Gajinya berapa? Saat melamar kerja, berapa uang pelican yang harus dikucurkan oleh suamimu?”

Atau bahkan para tetangga mencaci parmi, “Perawan bunting! Perawan gatel!”

Mereka akan berkata, “Parmi, enak dong hamil tanpa nikah.” Mereka akan tertawa sinis, meludah mencibir dan segudang hinaan tetangga akan tumplek tumplek memburu Parmi. Jika memang demikian, gendang telinga kedua orang tua Parmi akan jebol. Biji matanya akan terasa dicongel. Kulit mukanya akan terasa dirobek atau mengelupas bagai disiram air panas. Tulangnya pun akan lumpuh jika suatu saat ia mendengar kabar bahwa Parmi, hamil tanpa nikah. Kedua orang tua Parmi akan menjerit, meraung bagai serigala lapar.

Tidak ada pilihan lain, kecuali Parmi tetap harus berada di kota ini untuk mencari Cokro dan memaksanya untuk mengakui bahwa bayi yang meringuk di perutnya adalah anak Cokro. Diproduksi dari penih Cokro, hasil persetubuhannya beberapa bulan lalu di taman ini, lantas Parmi akan memaksa Cokro untuk segera menikah

Suara mesin kendaraan masih juga saling bersahut. Suara sirine meraung keras di perlintasan kereta pertanda kereta api segera melintas. Para pengendara kereta api segera melintas. Para pengendara pun berhenti. Dengan segera, wanita itu melangkahkan kaki. Ia mengusap butiran keringat yang merayap di wajahnya. Parmi terus berjalan. Ia mencoba menghibur diri dengan mengingat –ingat kenangan indahnya selama bersama Cokro.

Masih jelas wajah Cokro di benak Parmi. Parmi pun masih hafal warna kao dan jam tangan kesukaan Cokro. Tidak hanya itu, ukuran celana dan bau keringat Cokro pun tidak ia lupa, bahkan kata – kata yang biasa dilontarkan oleh Cokro untuk merayu pun semua masih dihafal wanita itu.

Saat berpacaran dulu, Parmi sangat hobi mendengarkan syair – syair cinta yang biasa diucapkan mulut Cokro. Bagitu indah bagai syair Kahil Ghibran, penyair dari Lebanon. Yeah, Cokro memang pandai merangkai kata. Kenangan yang masih melekat erat bagai dilem perekat adalah ketika Parmi dan Cokro baru bertemu di jalan ini.

Ketika itu, Cokro mengaku berasal dari Jakart. Ayahnya seorang direktur, ibunya seorang pengusaha sukses. Cokro pun mengaku bekerja di bank swasta. Gajinya jutaan rupiah perbulan. Rumahnya mewah. Rekeningnya di bank sudah menumpuk dan cukup untuk membahagiakan calon istrinya.

Semua itu, tentu membuat Parmi percaya, sebab setiap hari penamilannya keren, sepatu , celana, kaus, sepeda motor dan semua yang ia miliki serba mewah. Saat kencan, Cokro pun tidak doyan makan nasi pecel, lontong balap, apalagi tahu campur. Sajian makanannya serba wah.

Tidak heran, dulu Parmi begitu bangga berpacaran dengan Cokro. Parmi pun mengajak Cokro untuk berkunjung ke rumah teman– teman Parmi. Parmi bermesraan, berciuman di sembarang tempat. Semua itu, dilakukannya sebagai luapan rasa cintanya pada Cokro

Bahkan, beberapa saat setelah Cokro mengutarakan cintanya pada Parmi, dengan segera Parmi mengajak Cokro untuk keluar rumah memberitahu banyak orang bahwa Cokro adalah kekasihnya. Parmi pun memamerkan Cokro yang tampan, macho, gaul, super keren dan semua kelebihan yang dimilkinya pada teman– temannya di pabrik, pada kerabat, para tetangga, bahkan pada orang- orang di jalan

Ah . . .?
“Apa?” kata Parmi dalam hati

Kembali Parmi kaget. Ia segera melupakan masa lalu, masa indahnya. Matanya tertuju pada satu arah. Satu tempat, satu benda. Parmi seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita ini segera mendekati sesuatu yang membuatnya heran. Ia mencoba meyakinkan diri tentang apa yang dilihatnya. Ia mengucek kelopak matanya, mencubit kulitnya menepeleng pipinya

Ya, ternyata semua tidak mimpi, tidak lamunan , tidak hayalan, tapi nyata fakta. Ya ini benar – benar fakta. Apa yang dilihat di tepi trotar ini benar– benar bukan hayalan. Saat ini, Parmi melihat Cokro sedang berdiri di terminal angkot dengan pakaian dekil. Kedua jari ditangannya menjepit sebatang rokok

Saat ini, Parmi mengetahui bahwa ternyata Cokro seorang makelar angkot di terminal. Parmi baru sadar bahwa selama ini apa yang dilihat dan didengarnya tentang cokro hanya rayuan gombal

Cokro ternyata pembual bagai politisi yang berkampanye menjelang Pemilu. Gombal

Di jalan ini Parmi tampak lesu. Aliran daerahnya seolah terhenti. Sontak tubuhnya gemetar kian melemas. Seketika itu juga Parmi jatuh pingsan.

SUMBER FOTO ILUSTRASO:
https://www.google.com/search?q=ilustrasi+buaya&safe=strict&sxsrf
———————
*) Amin Mustofa lahir di Bojonegoro, 29 Agustus 1983. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini pernah menjadi wartawan majalah Gelanggang Mahasiswa Unisda Lamongan (2003) dan menjadi pemimpin redaksi majalah Gelanggang Mahasiswa (2004- 2007).

Karya tulisnya berupa cerpen dan artikel dimuat di Koran Radar Bojonegoro di antaranya, “Gombal” (2006), Profesionalisme Guru, Cukupkah dengan Portofolio? (2007), Sistem Gurui Guru untuk Pragmatis (2008), Pak dhe Kusmanto (2008), Di Balik Rencana Pemkab Bojonegoro Bangun Perpustakaan: Siapkan Pula Formula Penjaga Eksistensi (2010), dan Sambut Unas dengan Gembira (2014). Artikelnya juga dimuat di koran Jawa Pos, di antaranya; Menulis Puisi dengan Metode Kuantum (2008), Hentikan Curhat Bersama Anjas (2009), Protes Miyabi Jangan Berlebihan (2009), Dilema Sanksi Siswa: Kekerasan Atau pendidikan? (Suarabojonegoro.com, 2017).

Karya tulisnya berupa buku: buku antologi cerpen, Kamboja Menapak Mega, (Penerbit Pustaka Ilalang 2005 dan Penerbit Pustaka Intermedia 2014), Buku Pintar Bahasa Indonesia (Penerbit Lentera Ilmu Yogyakarta, 2006), dan modul Jurnalistik itu Asyik (2010), Buku Detik- Detik Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMK Enam Edisi (Edisi I 2014 s.d. Edisi VI 2019), Buku Terampil Menulis Karya Ilmiah Remaja (2018), Buku Antologi Cerpen Tuah Akik Panidin (2019), Dongeng Anak Jajanan Pasar: Pengenalan Jajanan Pasar dan Kearifan Lokal Budaya Bojonegoro pada Anak SD melalui Kisah Inpiratif (2019), dan buku “Penuntun Teknis Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik” (2020).

Penulis juga editor bahasa. Sampai Juni 2020 ini, sudah 170 judul buku karya penulis nasional (NTB, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Riau, Banten, Yogyakarta, Jateng, Jatim, dan dari Provisi lain di nusantara) yang dieditori dan sudah terbit. Email: aminmustofaoke@yah
oo.co.id

, , , , ,