• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 16.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 085232841193
  • SMS/WA: 085232841193
  • Line : -
  • BBM : -
  • pustakaintermedia@yahoo.com
Terpopuler:

Cerpen “Resepsi”

11 June 2020 - Kategori Blog

KARYA: AMIN MUSTOFA*)

“Romo Ki Salam yang saya patuhi fatwanya. Romo Ki Salam merupakan orang yang berjasa besar dalam kehidupan saya. Dulu, beliau yang mengajari saya mengaji. Saya merupakan santri kesayangan beliau. Karenanya, dulu beliau sering mengajak saya ikut serta, tatkala beliau menghadiri beragam undangan. Saya pun tak jarang tidur menginap di rumah beliau.

Baginya, saya dianggap sebagai anak sendiri. Karenanya, saya tidak akan melupaka jasa beliau. Namun karena sibuk, sekarang, saya berkunjung ke ndalem beliau. Saya benar- benar sibuk. Pagi saya mengajar siswa di sekolah. Sore, saya selalu ngantor di kantor cabang partai saya. Maklum, saya menjadi pengurus partai politik. Malamnya, saya masih harus menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang belum selesai. Karenanya, saya jarang berkunjung ke ndalem beliau,” kata Wibowo mengawali sambutanya.

“Wah, hebat ya!” kata Tarmuji.

“Ingin rasanya aku menyekolahkan anakku sampai tinggi. Biar sukses, banyak uang dan kalau mujur bisa jadi anggota dewan,” sahut Prapto.

“Walah, To…Prapto, kamu ini kok neko- neko,” sahut Tarmuji.
“Iya dong. Sebagai orang tua, tentu kita ingin menyekolahkan anak kita sehingga nanti bisa menjadi anak sukses. Biar bisa seperti Pak Wibowo.”
“Benar juga kamu, To. Sss…sttt, diam, kita dengarkan lagi ceramah sambutannya Pak Wibowo.

“Hadirin yang saya hormati, sebagai orang sibuk, sering sekali saya diprotes istri saya. Ia merasa bahwa saya telah menduakannya. Menurutnya, saat ini saya sudah mempunyai gandengan baru, yaitu laptop. Setelah seharian bekerja di luar rumah, malam harinya saya langsung masuk kamar dan memandangi laptop sampai larut malam, kemudian tertidur. Pagi saya berangkat kembali. Menurut istri saya, laptop merupakan istri saya yang baru,” kata Pak Wibowo.

“Kang, aku juga punya laptop di rumah. Kalau makan, rasanya tidak lengkap kalau tidak ada laptopnya. Meski makan dengan sambal terasi saja, tanpa ikan, yang penting ada laptopnya,” ujar Prapto.

“Lho..lho…, kamu ini kok nyeleneh, To…Prapto. Kamu wong ngaritan kok punya laptop. Yang ada di rumahmu itu bukan laptop, melainkan lalapan. Kalau laptop itu tidak bisa dimakan, To,” jawab Tarmuji dengan nada jengkel.

Pak Wibowo pun melanjutkan sambutannya. “Hadirin yang saya hormati. Para tamu undangan, khususnya para guru, saudara saya yang senasab tapi tak senasib yang saya hormati pula,” sambil mengarahkan pandangannya ke arah para guru yang saat itu sudah memenuhi kursi tamu.

“Lho, Pak Wibowo kok bisa gitu?” sahut salah seorang tamu, namun tidak jelas siapa orangnya.

“Iya, saya katakan senasab karena para guru di sini, dulu teman- teman saya waktu saya nyantri di pondok Romo Ki Slamet,” jawab Pak Wibowo.
“Terus, mengapa tak senasib?” sahut tamu lainnya.

“Ya..iyalah, nasib saya kan lebih beruntung dibanding guru di sini. Sekarang saya sudah tinggal di kota, menjadi guru negeri. Sedangkan para guru di sini, teman- teman saya waktu dulu nyantri sampai sekarang tetap menjadi guru swasta di madrasah pelosok desa. Oleh karenannya saya katakan, senasab tapi tak senasib,” jawab Pak Wibowo.

Mendengar penjelasan Pak Wibowo, sebagian tamu tersenyum. Sebagian tampak kagum. Sementara itu, sepasang pengantin yang duduk di kursi pelaminan itu pun ikut tersenyum. Bagi pengantin tersebut, acara resepsi pernikahan ini merupakan acara yang mengesankan karena dihadiri oleh Pak Wibowo. Apalagi Pak Wibowo berkenan memberikan sambutan, mewakili tuan rumah, mempelai pria.

Meski siang ini matahari terasa menyengat, para tamu tetap merasa nyaman mengikuti acara itu lantaran mereka merasa beruntung bisa bertatap muka dengan Pak Wibowo. Selama ini, mereka hanya bisa melihat Pak Wibowo melalui TV atau mendengarnya di radio.

Siang ini, Pak Wibowo memang terlihat gagah. Ia mengenakan celana gelap. Bersepatu mengkilap. Berbaju batik dan berpeci.

“Hadirin yang saya hormati. Kalau sebelum saya tadi, wakil wali mempelai putri menyampaikan sambutan dan menyerahkan pengantin putri, Emi Ratnawati, sekarang saya mewakili keluarga pengantin putra, almarhum Harmono dan Ibu Hartini menerima penyerahan tersebut dengan tangan terbuka. Emi Ratnawati akan kami anggap sebagai anak kami sendiri.

Hadirin, Ibu Hartini merupakan adik saya yang pertama. Dalam keluarga, saya yang tertua. Adik saya yang kedua dalah Basiron, S.Pd, M.M.Pd. Beliau menjadi kepala sekolah di SMA 3. Basiron memang beruntung karena sejak menikah, segala kebutuhan hidupnya dicukupi oleh mertuanya. Maklumlah, karena mertuanya orang kaya, sawahnya luas. Adik saya yang ketiga adalah Jayusman, S. Pd, M.M. Dia juga menjadi guru yang juga menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi. Meski anak petani kecil yang tinggal di pelosok desa, saya dan semua saudara saya bisa gerlar sarjana, bahkan S-2. Ini memang sudah menjadi target keluarga kami.” kata Pak Wibowo yang kemudian mengakhiri sambutannya.

MC pun beranjak dari tempat duduk yang kemudian memegang mikrofon. “Demikian tadi sambutan wakil keluarga mempelai pria yang dalam hal ini diwakili Pak Wibowo, S. Pd, M. Pd. Acara selanjutnya yakni istirahat, skors.

Para pramusaji pun muncul membawa hidangan untuk para tamu. Meski Pak Wibowo sudah selesai memberikan sambutan, para tamu masih juga memperbincangkan Pak Wibowo. Mereka heran dan kagum dengan kehebatan Pak Wibowo dan saudaranya sebab di kampung ini, orang yang bisa kuliah sarjana hanya sedikit. Hanya anak pejabat dan tuan tanahlah yang mampu kulih di perguruan tinggi.

Baru beberapa saat menikmati hidangan, para tamu merasa heran dengan para polisi yang mendatangi pesta tersebut.
“Wah, hebat ya, Pak Wibowo dijemput polisi!” Kata Tarmuji.
“Berarti, Pak Wibowo benar- benar orang besar. Orang penting.” sahut Prapto sambil menyeruput es buat di mangkoknya.

“Seperti Pak Bupati, Menteri, bahkan Presiden, kemana- mana dikawal polisi.”
“Lho, Kang, kalau orang besar, mengapa ke mana- mana harus minta dikawal? Berarti orang- orang besar tersebut penakut dong! Saya yang orang kecil saja kemana- mana berani jalan sendiri kok!”
“Kamu ini kok telo To…Prapto!” Bukan karena penakut tapi karena demi keamanan.”

“Kalau demi keamanan tapi melewati jalan dengan membawa banyak pasukan dan menyuruh pengendera lain minggir apa nggak malah nggak aman? Melintasi jalan dengan cara berarak- arakan, menguasai seluruh jalan raya, bahkan menerobos lampu lalu lintas apa malah nggak aman? Justru itu malah merebut hak pengendara lain. Ini malah tidak aman!”

“Halah…kamu kok seperti pengamat politik atau pengamat transportasi saja, To…. Kamu kan petani kecil, yang setiap hari mencangkul dan ngarit di sawah. Mereka melakukan itu barangkali karena tugasnya sangat penting, mendesak, dan terburu- buru.” Jawab Tarmuji.

“Ssstttt…Lho kang, mengapa Pak Harmoki ditarik- tarik tangannya?” Tanya Prapto heran.
“Mungkin dia belum berkenan meninggalkan acara ini, “ Jawab Tarmuji dengan tidak begitu menghiraukan suasana itu lantaran masih asyik menikmati hidangan.
“Lho mengapa Pak Wibowo diberi gelang? Anehnya, mengapa sepasang pengantin itu menangisi Pak Wibowo?”

Tarmuji tersentak kaget. Kemudian, dia mengikuti para tamu yang saat itu mengerumuni Pak Wibowo yang dikawal polisi. Polisi mengatakan bahwa Pak Wibowo harus dibawa ke kantor polisi karena diduga membeli ijazah. Dia dituduh mendapatkan gelar sarjana dan magister dengan cara membayar sejumlah uang tanpa harus bersusah payah kuliah. Pak Wibowo juga terlibat dalam jual beli ijazah instan.

“Wah, hebat dong. Berarti, Pak Wibowo juga sebagai pebisnis,” Kata Prapto.
“Ini bukan bisnisman yang baik, tapi penjahat. Dilarang negara.” ujar Tarmuji.
“Apa iya? Ah, tidak mungkin. Pak Wibowo orangnya baik. Berwibawa. Peduli warga. Pokoknya t-o-p deh.”

Polisi langsung membawa Pak Wibowo ke mobil tahanan. Para tamu tak percaya dengan tuduhan polisi lantaran selama ini yang ia tahu, Pak Wibowo selalu tampil meyakinkan, bergelar S-1 dan S-2. Mereka pun meramai- ramai keluar meninggalkan terop resepsi pernikahan tersebut untuk menuntut polisi untuk membebaskan Pak Wibowo. Tak terkecuali Tarmuji dan Prapto. Sepasang pengantin ini pun tidak ketinggalan. Bahkan, keduanya menjadi koordinator aksi itu. Suasana gaduh. Resepsi pernikahan itu pun buyar.

SUMBER FOTO ILUSTRASI:
https://www.google.com/search?q=foto+kartun+resepsi+pernikahan&safe
———————-

*) Amin Mustofa lahir di Bojonegoro, 29 Agustus 1983. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini pernah menjadi wartawan majalah Gelanggang Mahasiswa Unisda Lamongan (2003) dan menjadi pemimpin redaksi majalah Gelanggang Mahasiswa (2004- 2007).

Karya tulisnya berupa cerpen dan artikel dimuat di Koran Radar Bojonegoro di antaranya, “Gombal” (2006), Profesionalisme Guru, Cukupkah dengan Portofolio? (2007), Sistem Gurui Guru untuk Pragmatis (2008), Pak dhe Kusmanto (2008), Di Balik Rencana Pemkab Bojonegoro Bangun Perpustakaan: Siapkan Pula Formula Penjaga Eksistensi (2010), dan Sambut Unas dengan Gembira (2014). Artikelnya juga dimuat di koran Jawa Pos, di antaranya; Menulis Puisi dengan Metode Kuantum (2008), Hentikan Curhat Bersama Anjas (2009), Protes Miyabi Jangan Berlebihan (2009), Dilema Sanksi Siswa: Kekerasan Atau pendidikan? (Suarabojonegoro.com, 2017).

Karya tulisnya berupa buku: buku antologi cerpen, Kamboja Menapak Mega, (Penerbit Pustaka Ilalang 2005 dan Penerbit Pustaka Intermedia 2014), Buku Pintar Bahasa Indonesia (Penerbit Lentera Ilmu Yogyakarta, 2006), dan modul Jurnalistik itu Asyik (2010), Buku Detik- Detik Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMK Enam Edisi (Edisi I 2014 s.d. Edisi VI 2019), Buku Terampil Menulis Karya Ilmiah Remaja (2018), Buku Antologi Cerpen Tuah Akik Panidin (2019), Dongeng Anak Jajanan Pasar: Pengenalan Jajanan Pasar dan Kearifan Lokal Budaya Bojonegoro pada Anak SD melalui Kisah Inpiratif (2019), dan buku “Penuntun Teknis Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik” (2020).

Penulis juga editor bahasa. Sampai Juni 2020 ini, sudah 170 judul buku karya penulis nasional (NTB, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Riau, Banten, Yogyakarta, Jateng, Jatim, dan dari Provisi lain di nusantara) yang dieditori dan sudah terbit. Email: aminmustofaoke@yah
oo.co.id

, , , , ,