• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 16.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 085232841193
  • SMS/WA: 085232841193
  • Line : -
  • BBM : -
  • pustakaintermedia@yahoo.com
Terpopuler:

Cerpen “Tuah Akik Panidin”

11 June 2020 - Kategori Blog

CERPEN KARYA AMIN MUSTOFA*)

Kalau Anda berkunjung ke kampungku, sempatkan mampir di Warkopnya (warung kopi) Mama Fina. Tempatnya nggak begitu sulit ditemukan. Dari masjid besar, berjalanlah ke utara, sampai simpang empat, berbeloklah ke kiri, berjalan lagi lurus sampai jembatan. Di utara jembatan, ada kebun blimbing dan pisang, dekatnya sungai Bengawan Solo. Nah, di situlah letak Warkop Mama Fina.

Warungnya nggak terlalu besar, tapi sepanjang waktu dipenuhi warga. Pagi ramai. Kalau sore dan malam, makin penuh pembelinya. Meski ramai, bahkan sesak, suasana Warkop Mama Fina sangat nyaman. Ada TV LCD lumayan besar yang menempel di dinding atas. Koran Jawa Pos pun selalu update tiap hari. Layanan internet gratis (free-WIFI) pun tersedia. Kalau angin bengawan Solo berhembus, rasanya segar sekali. Sesegar ketika kita menyeruput kopi Mama Fina.

Begitu nyamannya, tak heran yang hobi menyeruput kopi Mama Fina tak hanya tukang dayung perahu, para buruh yang membuat batu bata di tepian Bengawan Solo, Carik, Kapela Desa, bahkan Camat pun sering menghabiskan waktunya di Warkop ini. Tak terkecuali Panidin.

Sore itu, Panidin hadir di warung Mama Fina. Sepulang dari sawah, ia memang biasa mampir di warung Mama Fina. Ada saja yang diceritakanya di Warkop ini. Saat aku juga ngopi di warung itu, dia cerita padaku kalau masa mudanya dulu, ia pernah menjadi guru. Meski gajinya nggak seberapa, nyatanya ia bisa membeli tiga ekor sapi, sawah, bahkan membangun rumah. Karena berkah menjadi menjadi gurulah, ia juga kerap kali diundang warga untuk menjadi juru bicara pada berbagai acara warga, mulai acara tahlilan, tasyakuran pernikahan, hingga menjadi MC panggung. Ia juga pernah cerita padaku kalau ia pernah juga menjadi MC orkes di acara khitanan Putranya Pak Darmo. Kala itu, Inul Daratista menjadi salah satu penyanyinya. Saat itu, Inul belum sampai Jakarta. Ia baru menjadi penyanyi dari panggung ke panggung kecil.

Mendengar ceritanya, aku penasaran. Untuk meyakinkan diri, mengobati penasaranku, suatu ketika aku menyempatkan mampir di rumahnya. Aku ingin melihat foto- fotonya yang sepanggung dengan inul Daratisnya yang tempo hari ia ceritakan padaku.

Setelah disilakan masuk, aku duduk di kursi ruang tamunya. Berbasa- basi sejenak. Kutanyakan foto yang tempo hari diceritakannya padaku. Lumayan lama aku menunggu Panidin mencari foto itu. Meski begitu. lama menunggu, nggak masalah karena penasaranku terjawab sudah tatkala lelaki itu menunjukkan fotonya. Sayangnya, foto Inul tidak jelas karena agak kabur.

Panidin juga cerita begitu sibuknya manggung, ia mengundurkan diri dari sekolah. Tidak lagi menjadi guru. Baginya, menjadi MC lebih menyenangkan hatinya. Selain karena amplopnya tebal, dunia ini menjadi hiburan baginya.

Panidin mengaku kala itu laris menjadi MC karena waktu ia masih muda. Tampilannya keren. Ia meyakini kalau bukan hanya tampilannya yang keren, namun karena tuah akik yang dipunyainya itu.

“Akik ini, bukan sembarang akik. Ini pusaka. bisa menjadi penglaris kalau kamu berbisnis,” kata Panidin.

“Aku belum punya bisnisan, Pak. Masih kuliah.”

“Nah, cocok. Berbisnislah sambil mengenakan akik ini. Nanti kamu bisa sukses!”

“Masalahku, nggak punya modal, Pak! Lagi pula, aku belum punya ide untuk menentukan pilihan mau berbisnis apa.”

“Bisa juga sebagai pemikat hati perempuan kalau kamu ingin mengincar perempuan”

“Belum berani pacaran. Belum ada yang mau denganku”

“Akik ini bisa meluluhkan hati seseorang.”

“Termasuk dosen?”

“Siapa saja!” jawabnya.

Dari sini terpikir olehku menggunakan akik ini untuk meluluhkan hati dosenku, Profesor Darmoko dan Profesor Gianto. Dua profesor ini membuatku pusing. Tesis yang kususun sudah berganti tiga kali. Diobrak- abrik oleh dua dosenku ini. Padahal aku menghabiskan banyak tenaga, pikiran, bahkan biaya untuk menyusun tesis ini. Ini judul tesis yang keempat. Dengan akik ini, siapa tahu bisa membantuku segera menyelesaikan tesis dan aku segera lulus S-2.

“Eits…biar tuahnya tidak hilang, jangan sembarang memakai akik ini,” kata Panidin padaku tatakala aku mau mencoba akik ini.

“Apa ritualnya?”

“Badanmu harus suci dari hadas besar dan kecil. Berpuasalah Senin dan Kamis selama sebulan. Setiap pukul 12 malam, bacalah mantra ini 3 X sambil mengelus- elus akik ini. Pada puasa terakhir, sembelihlah ayam jago berwarna hitam. Kemudian bawa ke sini!”

Aku pun manggut-manggut.

“Salah satu bukti kehebatan akik ini adalah istriku. Lihatlah istriku. Dia amat cantik. Dia bunga desa di Desa Sambirono. Dia mau padaku karena akik ini. Akik ini mampu menjadikan orang tunduk dan terpikat pada kita.”

Istri Panidin memang cantik. Aku makin tertarik dan yakin tentang kehebatan akik ini.

“Ya sudah. Kubeli akik ini. Lumayan, bisa membantuku meluluhkan hati dosen- dosenku. Sehingga tesisku bisa segera selesai dan aku bisa cepat wisuda.

“Berapa harganya?” tanyaku.

“Nggak usah beli. Spesial untuk kamu gratis.”

“Yang benar, Pak?”

“Iya. Ambillah! Cukup ganti biaya produksi 2 juta rupiah.”
***

“Malem, Say? Sdg sibk pa?”
“Mlm jg. Ngetik tesis.”
“Blm slsai to?”
“Blm. Dosen pembimbingku bikin q sebel. Rewel bgt.”
“Biar gk sumpek, bsk qt ktmu, yuk?”
“Dmn?”
Di taman dekat perpus kampus qt.”
“Ok deh.”

Entah mengapa, Yuli si cewek cantik yang terkenal sulit didekati tiba- tiba sms padaku begitu. Dia ngajak ketemuan. Aku makin yakin kalau ini bagian dari tuah akik Panidin.

Esok harinya, aku pun menuju taman dekat perpus. Eh, si Yuli sudah ada di taman itu. Setelah ngobrol banyak. Aku makin yakin kalau Yuli tertarik dan mengutarakan cinta padaku. Aku pun jadian dengan dia.

“Sebentar ya, Yul. Aku ada janji bimbingan tesis dengan dosenku.”

Dengan segera aku menemui dosenku. Mujur benar hari aku, Yuli primadona kampus ini terpikat padaku. Kedua dosen pembimbingku luluh hatinya. Tesis yang kususun mulus di depan dosen. Tinggal sedikit dan bimbingan beberapa kali pertemuan lagi, aku yakin tesisku akan selesai. Aku makin mantap. Yakin kalau ini tuah akik Pak Panidin.
Melihat kemulusan langkahku ini, teman- teman kuliahku makin heran. Para mahasiswa penasaran denganku. Termasuk Yuli. Yang saat itu menemaniku.

“Say, bantu aku dong!” kata Yuli.

“Bantu apa?” tanyaku.

“Aku mau buka usaha. Butuh tambahan model. Bulan depan aku kembalikan!”

“Usaha apa?”

“Mau mbuka salon kecantikan. Nanti kalau sukses kan kamu juga bangga punya pacar sukses. Kaya raya. Kalau aku jadi istrimu, kamu kan senang, punya istri cantik, pintar, dan kaya raya!”

“Benar juga kata Yuli. Ahhhh…alangkah senangnya hatiku, bisa segera lulus S-2, dapat istri bintang kampus lagi. “ Kataku dalam hati.

“Berapa modal yang kamu butuhkan?” tanyaku.

“Aku sudah punya modal. Tinggal kurang sedikit, 10 juta rupiah.” jawab Yuli, sambil memegang tanganku.

“Ha….? Sebanyak itu.” kataku dalam hati.

“Boleh, kan? Aku tidak minta lho. Hanya pinjam. Bulan depan kembali.” Tanya Yuli sambil menatapku.

“Ok deh.” kataku.

Bagiku uang itu tidak masalah. Lumayan bisa membantu calon istriku. Calon ibu anak-anakku.

Kampusku kian membahagiakanku setelah sekian lama membuatku pusing. Ini lantaran proses penyusunan tesisku terus berjalan. Beberapa kali aku bimbingan dengan dosen, lancer semuanya. Minggu depan aku ujian.

Mengetahui jalanku lumayan mulus dalam menyusun tesis, teman- temanku mulai heran. Sebenarnya aku tidak mau bercerita pada teman- temanku. Tapi karena aku kasihan pada mereka yang keloyongan, jatuh bangun menghadapi dosen, aku pun berbagi tips. Beberapa temanku setuju. Datanglah mereka ke Panidin untuk memiliki akik.

Hari itu, aku bersantai di alun- alun, memanfaatkan suasana sejuknya alun- alun kota untuk melanjutkan pengerjaan tesisku. Sesekali aku mengelus- elus dan mencium akik ini, seraya mengucapkan terima kasih. Di tengah aku sibuk, ternyata Panidin datang menghampiriku. Kami pun ngbrol banyak. Kusampaikan pula pada Panidin bahwa beberapa kali aku menghadap dosenku lumayan lancar. Nggak sesulit sebelumnya. Panidin pun bercerita banyak banyak orang berkunjung ke rumahnya untuk membeli akik. Mama Fina, si pemilik warung juga. Pak Kades kampungku, bahkan beberapa temanku yang sekarang bimbingan tesis juga.

Panidin mengatakan kalau ingin akik ini lebih bertuah, aku harus memandikan akik ini dengan bunga Sliweran tiga warna, minyak Jubah, air Belewang, dan rempah- rempah yang semuanya bisa kubeli di toko “Gento” di pasar besar. Setelah semuanya lengkap, saya harus mengambil mantra dan air di rumah Panidin. Meski ritual itu menghabiskan dana lumayan banyak, tapi nggak apa- apalah bagiku. Asalkan semua urusanku lancar.

Hari itu aku punya janji dengan dosen pembimbingku. Beragkat ke kampus, aku sengaja lewat Jalan Pramuka, sekalian menghampiri Yuli. Sudah lama aku nggak ketemu. Kangen rasanya. Lama dia nggak nongol. Barangkali karena sibuk dengan bisnisnya.

Sudah bolak- balik aku melewati jalan Pramuka nomor 41, tapi belum ada salon yang dimaksudkan Yuli. Ah, barangkali salonnya masih dalam proses pembukaan. Karena waktu sudah mepet, aku segera ke kampus menemui dosen pembimbingku. Entah mengapa, kali ini, argumentasiku terpatahkan oleh dosenku. Aku makin pusing. Perdebatan antara aku dan dosenkupun tak terhindarkan. Kami sama- sama bersikukuh membenarkan pendirian. Mentok. Pusing. Aku keluar ruangan. Stres. Ini kurang. Itu kurang. Aku harus bagaimana. Entah mengapa akik ini tuahnya tidak sampai pada dosenku hari ini. Kedua dosenku meminta aku melengkapi tesisku ini. Itu. Yang semuanya sulit kupenuhi. Tesisku pun ku buang. Aku sumpek.

Di sela kesumpekanku. Datanglah beberapa temanku. Dia cerita bahwa akik yang didapatkannya dari Panidin dengan harga jutaan rupiah nggak berpengaruh. Semua urusan mereka tetap sulit. Mereka tetap kesulitan menghadapi dosen. Bahkan saat ujian pun, tesis mereka mental. Dosen tetap galak. Di tengah kepalaku pusing, aku tersentak begitu menghetahui Yuli bersama dengan lelaki berjalan menuju mobil.

“Lho, itu Yuli?”tanyaku.

“Iya.” jawab teman- temanku.

“Bersama siapa dia?”

Ferdi, pacarnya.”

Ha? Dia meninggalkan aku?

Lho dia pacaran dengan kamu. Yang benar saja kamu. Yuli itu tukang tipu. Cewek matre.

Dulu dia dekati aku. Lantas pinjam uang katanya mau buka salon.
Kamu beri?
Iya.

Lha…lha…bohong besar. Dia nggak pernah buka salon. Lha wong tiap minggu dia perawatan wajah dan kulit di salon mamaku kok buka salon gimana. Dia bohong. Tukang tipu

Haduuhhhhhhh…….!!!! Yuli….kau tega tinggalkan aku…..!!

Ssstttt nggak usah menangis gitu. Sabar. Masih banyak cewek yang baik. Justru kamu diselematkan oleh Tuhan karena dijauhkan dengan cewek matre seperti Yuli.

Lha uangku?
Ikhlaskan saja. Nggak bakalan dia mbayar. Kami juga pernah senasib dengan kamu.’

Tiba- tiba Prapto berlari menghampiri kami. Nafasnya ngos- ngosan. Ia menunjukkan berita di koran kalau Panidin ditahan polisi karena kasus penipuan akik. Hatiku makin kalut. Sesampai di rumah aku tidak bisa tidur. Pusing. Sudah banyak uang yang kuhabiskan. Kiriman uang dari papaku sudah habis. Sementara papaku belum transfer juga. Beberapa kali aku sudah meminjam uang milik temanku untuk kebutuhan kuliah dan biaya hidupku di kos. Aku makin malu karena waktunya mengembalikan tapi belum bisa.

Kucoba menerapkan tuah akiknya Panidin. Masuklah aku di kamar ibu kosku karena kebetulan ibu kosku sedang keluar. Kubuka lemari dan laci. Kutemukan tumpukan uang dan emas. Dengan segera aku ambil. Begitu aku hendak beranjak keluar, aku terkejut karena ibu kosku berdiri di depan pintu dan menangkap basahku. Akhirnya aku dibawa ke kantor polisi. Aku kira, dengan tuah akik ini aku bisa menghilang, mencuri tapi tidak dilihat orang, ternyata tidak. Aku tertipu. Penyesalan tinggallah penyesalan.

SUMBER FOTO ILUSTRASI:https://www.google.com/search?q=FOTO+KARTUN+PAKAI+AKIK&safe

——————————-

*) Amin Mustofa lahir di Bojonegoro, 29 Agustus 1983. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini pernah menjadi wartawan majalah Gelanggang Mahasiswa Unisda Lamongan (2003) dan menjadi pemimpin redaksi majalah Gelanggang Mahasiswa (2004- 2007).

Karya tulisnya berupa cerpen dan artikel dimuat di Koran Radar Bojonegoro di antaranya, “Gombal” (2006), Profesionalisme Guru, Cukupkah dengan Portofolio? (2007), Sistem Gurui Guru untuk Pragmatis (2008), Pak dhe Kusmanto (2008), Di Balik Rencana Pemkab Bojonegoro Bangun Perpustakaan: Siapkan Pula Formula Penjaga Eksistensi (2010), dan Sambut Unas dengan Gembira (2014). Artikelnya juga dimuat di koran Jawa Pos, di antaranya; Menulis Puisi dengan Metode Kuantum (2008), Hentikan Curhat Bersama Anjas (2009), Protes Miyabi Jangan Berlebihan (2009), Dilema Sanksi Siswa: Kekerasan Atau pendidikan? (Suarabojonegoro.com, 2017).

Karya tulisnya berupa buku: buku antologi cerpen, Kamboja Menapak Mega, (Penerbit Pustaka Ilalang 2005 dan Penerbit Pustaka Intermedia 2014), Buku Pintar Bahasa Indonesia (Penerbit Lentera Ilmu Yogyakarta, 2006), dan modul Jurnalistik itu Asyik (2010), Buku Detik- Detik Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMK Enam Edisi (Edisi I 2014 s.d. Edisi VI 2019), Buku Terampil Menulis Karya Ilmiah Remaja (2018), Buku Antologi Cerpen Tuah Akik Panidin (2019), Dongeng Anak Jajanan Pasar: Pengenalan Jajanan Pasar dan Kearifan Lokal Budaya Bojonegoro pada Anak SD melalui Kisah Inpiratif (2019), dan buku “Penuntun Teknis Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik” (2020).

Penulis juga editor bahasa. Sampai Juni 2020 ini, sudah 170 judul buku karya penulis nasional (NTB, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Riau, Banten, Yogyakarta, Jateng, Jatim, dan dari Provisi lain di nusantara) yang dieditori dan sudah terbit. Email: aminmustofaoke@yahoo.co.id

, , , , ,