• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 16.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 085232841193
  • SMS/WA: 085232841193
  • Line : -
  • BBM : -
  • pustakaintermedia@yahoo.com
Terpopuler:

Gimana C Carax Nulis Bgs dan Mbois

06 August 2017 - Kategori Blog

Teman-teman,

Inilah salah satu kabar menyenangkan yang bisa saya sampaikan sekarang. Jadi begini, hampir setiap minggu saya mendapati di inbox email saya surat yang menanyakan bagaimana cara menulis. Ini saya golongkan sebagai kabar menyenangkan karena dari sana kita bisa tahu bahwa di tengah-tengah kita selalu ada orang-orang yang bergairah untuk menjadi penulis. Mungkin gairah itu sama besarnya dengan hasrat para politisi kita untuk menjadi presiden atau, setidaknya, menjadi teman baik presiden.

Beberapa dari mereka mungkin

 akan menjadi penulis yang baik pada saatnya. Beberapa mungkin gagal menjadi penulis dan berhasil dalam urusan-urusan 

lain. Beberapa lagi mungkin gagal menjadi penulis dan juga dalam berbagai hal. Untuk yang ketiga, saya akan menyarankan agar mereka banting setir saja menjadi politisi. Teman saya, seorang politisi, pernah meledek dirinya sendiri, “Menjadi politisi adalah pilihan terakhir bagi orang yang gagal dalam apa saja. Apes-apesnya, anda bisa menjadi konstituen partai politik.”

Saya kira ledekan itu benar belaka, setidaknya untuk konteks Indonesia.

Karena itu, selagi anda memiliki gairah menulis, pertahankan gairah tersebut sekuat mungkin. Menjadi penulis yang baik akan menyelamatkan anda dari kemungkinan paling apes, yakni menjadi konstituen partai politik. Untuk menjadi penulis yang baik tentu saja anda perlu tahu cara membuat tulisan yang baik. Dan untuk tahu cara membuat tulisan yang baik, salah satu metodenya adalah bertanya, misalnya seperti ini, “gimana c carax nulis bgs spt bapak?” atau “salut!!! ajari nulis yg mbois spt anda, dunk…” atau “q mw blajar nulis, bisakah q minta file-file digitalx?”

Jenis-jenis komunikasi satu larik itu, terus terang, selalu membikin saya kikuk. Peribahasa kita mengajarkan “masuk ke kandang kambing mengembik, masuk ke istana presiden curhat.” Pendeknya, bicaralah pada sebuah kaum dengan menggunakan bahasa

 mereka sehingga anda tidak menjadi benda asing bagi mereka. Anda akan terdengar sebagai alien jika menggonggong di kandang gorila. Dan anda akan ditelan mentah-mentah jika menguik di kandang singa. Maka, mengikuti saran peribahasa itu, berkubanglah jika berkumpul dengan kawanan kerbau, anda akan diterima secara baik oleh mereka.

Namun di situlah saya bermasalah. Saya benar-benar tidak bisa masuk ke kandang mereka dan berkubang dalam bahasa yang se-mbois itu. Dan inilah rintangan terbesar yang membuat saya sering kikuk menghadapi email-email satu larik yang ditulis dengan cara macam itu. Sering saya memerlukan waktu sangat lama untuk menemukan gaya yang tepat untuk menghadapi mereka.

Jika nasihat dalam peribah

asa itu saya terapkan, itu berarti saya harus memadatkan pelajaran menulis dalam satu kalimat yang mbois. Anda tahu, orang akan menyerap pelajaran secara baik jika pelajaran itu disampaikan dalam cara yang membuat mereka nyaman. Persoalannya, bagaimana memadatkan pemahaman tentang penulisan ke dalam satu kalimat mbois?

Karena tak ingin mengecewakan, saya mencoba juga memberikan pelajaran menulis kepada mereka, dalam satu larik sebagaimana gaya komunikasi mereka. Maka, inilah pelajaran menulis yang saya sampaikan kepada mereka sesuai dengan bahasa mereka: “wkwkwkwkwkwk…..!!!!!”

Saya tidak tahu apakah pemadatan menjadi satu larik itu akan membuat orang bisa memahami cara menulis yang baik atau tidak. Kalaupun itu gagal, paling tidak saya berhasil dalam hal lain, yakni bahwa saya sudah menerapkan salah satu prinsip berkomunikasi yang baik. Saya sudah mengembik di kandang kambing. Lebih tepat, saya sudah mengakak di kandang gendruwo.

Kendati demikian, sampai sekarang saya masih menganggap bahwa menyampaikan pelajaran dalam satu larik adalah tantangan tersendiri, terutama bagi orang yang mudah tertantang. Dan sebenarnya saya tidak terlalu nyaman memadatkan apa yang saya pahami menjadi satu larik “wkwkwkwkwk…” yang mbois itu. Anda pun mungkin lebih mudah mencerna

 gagasan tentang penulisan kreatif ketika itu disampaikan dalam bahasa yang biasa-biasa saja, tidak perlu mbois–apa pun yang dimaksudkan dengan mbois. Atau ada yang bisa mengajarkan teknik menulis mbois?

Kesulitan yang lain, saya tidak akrab dengan cara menulis kalimat yang menggunakan kode-kode tertentu seperti cara menulis: “gimana c carax….” atau “pertamax….” Saya pernah ikut pramuka di SD dan SMP dan pernah juga belajar semaphore, yakni bahasa isyarat yang disampaikan dengan formasi berdera di tangan kiri dan kanan anda, namun saya tidak pernah menulis cerpen atau artikel dengan menggunakan lambang-lambang semaphore itu. Mungkin suatu saat perlu juga saya mencoba kecakapan untuk menulis novel dengan menggunakan lambang-lambang semaphore. Barangkali ia akan memberikan efek tertentu yang memabukkan dan novel saya akan menjadi seperti kitab kuno yang disalin dari rangkaian gambar di gua-gua prasejarah.

Dan itu adalah proyek untuk menghabiskan masa tua nanti. Jadi, alih-alih mengisi TTS di kursi malas, saya akan mencoba sebuah eksperimen dalam karang-mengarang dengan menggunakan bahasa semaphore. Untuk waktu sekarang dan sampai bertahun-tahun kemudian, saya hanya akan menulis yang biasa-biasa saja, dengan cara yang tidak menganiaya bahasa Indonesia. Saya pikir jika anda berniat menulis, anda juga perlu belajar mencintai bahasa dan menggunaka

nnya demi mendapatkan kemungkinan pengucapan terbaik melalui bahasa yang anda gunakan.

Maafkan bahwa saya terlalu konservatif dalam urusan ini. Dan saran konservatif saya adalah anda cukup menjadi penulis yang baik dan menghindari dorongan-dorongan obsesif untuk menyiksa bahasa. Sudah terlalu banyak penyiksaan terhadap bahasa Indonesia dilakukan orang. Tak perlu ditambah-tambah lagi.

Salam saya,
A.S. Laksana
Penulis yang dulu

 pernah belajar semaphore

N.B. Saya tentu saja menghormati setiap eksperimen dengan bahasa, tetapi agak risau pada kelatahan yang diperlihatkan oleh kaum penyiksa bahasa dan pedagang minyak yang selalu berseru, “Pertamax, gan…!”

Kirimkan artikel ini kepada teman anda yang berminat