• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 16.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 085232841193
  • SMS/WA: 085232841193
  • Line : -
  • BBM : -
  • pustakaintermedia@yahoo.com
Terpopuler:

Cerpen “Gombal”

11 June 2020 - Kategori Blog

CERPEN KARYA AMIN MUSTOFA*)

Sarmin menatap pepohonan yang saling berkejaran. Pepohonan itu diburu oleh rerumputan liar. Asap hitam yang menari di spontan mengikuti jejak kedua makhluk itu. Sampah plastik yang menggunung di tepi rel kereta api itu pun terbang diusir angin dan ia pun segera menyusul jejak pepohonan, rerumputan, dan asap hitam. Mereka berlari saling berkejaran. Pemandangan itu mirip pertandingan lari maraton yang berlangsung beberapa pekan di sebuah gelanggang olahraga bergengsi di luar negeri.

Dari jendela kaca, sesekli tampak bus antarkotra melintas. Suara klakson yang berbunyi menyemburkan kesemerawutan suasana saat itu. Perlahan gendang telinga Sarmin bergetar dan organ pendengarannya itu segera mengirimkan delegasi ke otak untuk memberi kabar pada sistem otaknya bahwa ada seseorang yang sedang mernanggilnya. Spontan panggilan itu direspons oleh organ bicara Sarmin dengan cara menggetarkan bibir hitamnya yang masih mengepulkan asap rokok.

“Iya…iii…iaa…ada apa pak?” Kata Sarmin dengan gugup.

“Karcis, Pak” Kata seorang lelaki bertubuh kokoh yang saat itu berpakaian rapi lengkap dengan topi necis di kepalanya. Topi lelaki itu mirip topi polisi, tetapi bedanya kalau topi poisi berwarna coklat, topi lelaki itu berwarna biru tua.

Sarmin segera merogoh tas kopernya yang ditaruh di bawah kursi dan segera mengambil karcisnya yang tadi telah dibelinya di stasiun.

“Ini pak karcis, saya!” Kata Sarmin sambil menjulurkan tangan kanannya yang telapak tanganya memegang karcis. Lelaki berpakaian rapi tersebut segera menggoreskan penanya di karcis Sarmin. Perlahan ia segera beranjak sambil berkata, “Karcis… karcis…”

Kembali Sarmin membuang tatapan matanya ke luar jendela kereta. Ia mengamati pepohonan dan pasukannya yang tadi saling berkejaran. Ternyata kali ini mereka akur. Pepohonan tersebut kali ini diam, mematung. Rerumputan dan kroni-kroninya pun kali ini diam. Melihat itu, Sarmin segera meremot pandangannya yang kemudian mengarahkannya pada papan kayu berwarna hijau bemkuran 1, 5 meter bertuliskan nama stasiun tersebut. Lelaki itu pun menyadari bahwa kereta yang ditumpanginya sedang berhenti di sebuah stasiun kecil yang tidak jauh dari kota.

Para calon penumpang yang dari tadi berjejer di stasiun segera berdesak-desakan. Mereka saling berebutan memenuhi pintu kereta dan terlihat sangat semerawut. Melihat pemandangan yang tidak sedap dipandang mata itu, mata Sarmin terbelalak saat melihat beberapa pemuda yang sengaja merogoh saku penumpang lainnya. “Copet!” Kata Sarmin dalam hati. Sarmin hanya bergeming. Sementara perempuan yang duduk di sampingnya, yang dari tadi mengunci rapat mulutnya kini ia mulai angkat bicara.

“Mau kemana pak?” Tanya perempuan itu sambil menolehkan wajahnya ke samping, ke arah Sarmin.

“Ke desa.” Jawab Sarrnin sarnbil tersenyum kecil,

Keduanya mulai diam lagi. Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka.
Tatapan mata Sarmin rnendobrak jendela kaca kereta dan melompat ke jalan raya.
Sementara tatapan bola mata perempuan itu kembali ditanam di rerimbunan tulisan koran
bekas yang dipegangnya.

Suara kereta itu makin menggemuruh. Sesekali gerbong kereta itu bergoyang kecil. Sementara beberapa penumpang yang saat itu tidak mendapatkan jatah tempat duduk masih juga saling berdesak-desakan. Mendung yang siang itu mulai mengepul menambah suasana kereta yang diturnpangi Sarmin menjadi semakin panas.

“Air”.air…dingin…dingin! Air pak?” kata pedagang asongan yang saat itu mendatangi Sarmin dan menawarkan minuman.

Sarmin hanya bergeming. Tak sepatah kata pun yang melompat dan mulut lelaki itu. la cukup rnenjawab tawaran dari pedagang asongan tersebut dengan menggeleng kepala. Pedagang asongan itu pun segera beranjak pergi.

Disusul saorang bocah yang baru berumur belasan tahun yang kemudian juga menghampiri Sarmin. Kedua tangan bocah polos itu memegang kipas warna-wami yang terbuat dan bambu.

Kipas, Pak? Murah kok,. Hanya seribu rupiah.” Kata bocah polos itu.

Kembali Sarmin hanya bergeming sarnbil menggeleng kepala. Panas udara kereta itu
menjadikan keringat Sarmin saling bercucuran, berdemontrasi ke seluruh perrnukaan kulit Sarmin. Cucuran keringat tersebut juga mengabarkan bahwa Sarmin harus membeli kipas.

Sernentara, unjuk rasa juga dilaksanaan oleh tenggorokan Sarmin yang saat itu mulai
mengering. Tuntutan tenggorokan Sarmin serupa dengan isu yang diperjuangkan oleh para keringat. Mereka semua sepakat berkoalisi menuntut dilepaskan dari sengatan udara di siang itu. Dengan membeli kipas dan meminum air segar, pasti gejolak demonstrasi yang mereka lakukan akan mereda.

Tetapi Sarmin hanya darn saja. Sarmin yang sekarang memang lain dengan Sarmin yang dulu. Jika dulu sejak ia rnasih menjadi pejabat dan tinggal di perumahan mewah, ia tidak pernah merasakan sakitnya lapar dan haus. Dulu ia terbiasa makan di restoran ternama di kota besar bersama istrinya sambil menikmati alunan indah tembang slow. Semua kenikmatan hidup itu dialarni oleh Sarmin beberapa bulan yang lalu. Sekarang tidak lagi. Kini lelaki itu mulai akrab dengan lapar dan haus. Bahkan saat ini ia mernaksa tenggorokannya untuk menahan haus dan panasnya udara kereta. apiv lantaran ia ,tidak mampu membeli minuman segar.

Semua kebahagiaan yang selama ini menemani hidup Sarmin, satu persatu kabur. Sejak hadirnya penyakit aneh yang kerasan tinggal di tubuh istrinya, semua kebahagiaan lelaki itu lenyap. Perabot mewah yang menyulap rumah Sarmin menjadi rumah megah mirip ratu Elizabeth di Inggris, satu persatu mulai disita oleh bank perkeriditan. Semua lenyap.

Kesedihan lelaki itu mulai lengkap tatkala sebagian harta yang dimilikinya tidak mampu menyelamatkan istrinya dari jurang kematian. Penyakit aneh itu terus mengeroyok tubuh istrinya dan menjadi maut. Sejak itu, Sarmin menjadi pelamun. Rasa bingung yang bercampur dengan kesedihan selalu menemani lelaki itu sepanjang waktu.

Dunia seolah tidak memberi kesempatan lelaki itu untuk tersenyum, meski hanya sekejap. Mungkin sinyal siksa api neraka yang nantinya akan memanggang tubuh lelaki itu di akhirat kini sudah terasa. Jika dulu ia sudah terbiasa menyusahkan orang dengan jabatan dan kekuasaan yang ia miliki, kini tidak lagi. Kali ini, ia benar-benar orang yang termasuk dalam komunitas orang susah. Sebab, belum genap seratus hati sepeninggal istrinya, lelaki itu harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Ia dipastikan sebagai salah satu tersangka penggelap uang negara. Karena ulahnya itu, Sarmin pun harus rela meringkuk di penjara.

Memang, hukuman yang diterima oleh lelaki itu tidak seberat hukuman yang diterima oleh para temannya. Jika para temannya harus meringkuk beberapa tahun, di tahanan, bagi Sarmin tidak begitu. Ia hanya cukup menginap beberapa tahun di penjara.

Sebenamya yang meringankan beban lelaki itu tidak hanya karena ia pandai melobi para hakim dan jaksa, tetapi juga karena ia mampu menebus hukuman yang diterimanya dengan uang jutaan rupiah. Jika tidak demikan, Sarmin akan seperti maling-maling kelas teri yang tidak berdasi. Maling kelas teri yang tidak berdasi selalu menjadi santapan empuk para penegak hukum. Sedangkan keadilan hukum tidak akan beraku bagi Sarmin. Meskipun demikian, kasus yang menimpa lelaki itu cukup untuk melemparnya ke jurang kemelaratan yang juga menculik namanya dari bursa pejabat antikorupsi.

Kereta tua itu terus rnerayap. Suaranya menggemuruh. Sarmin menatap perempun yang dari tadi duduk di sampingnya. Perlahan, air mata Sarmin menetes, merayapi garis-garis wajahnya. Yah, Sarmin menangis saat mengenang masa- masa jayanya.

Sarmin mencoba mengusir sedih dengan cara bercakap- cakap dengan perempuan yang duduk di sampingnya.

“Kok sendirian, Mbak? Suamimu ke mana?” Tanya Sarmin pada perempuan itu.

“Suami saya pergi ke luar negeri beberapa bulan yang lalu. Itu karena kenekatan pemerintah menaikan harga BBM beberapa bulan yang lalu, Keputusan pemerintah itulah yang mendaulat pabrik tempat bekerja suami saya di Surabaya untuk melakukan PHK massal. Yah, salah satu korbannya adalah suami saya. Sebagai solusinya, suami saya nekat merantau ke luar negeri, “ kata perempuan itu dengan menampakkan wajah yang cukup mengeri kan. Tatapannya tajam bak singa yang hendak menelan mangsa.

Sarmin, mantan pejabat itu merasa beruntung karena perempuan itu tidak mengetahui bahwa ia mantan pejabat berpengaruh di kotanya. Jika perempuan itu mengetahui, perempuan itu akan berteriak di kereta itu. Perempuan itu akan mengumumkannya pada semua penumpang kereta dan mengajak mereka untuk melabrak Sarmin habis-habisan.

“Bapak tadi katanya mau ke desa, kalau boleh tahu ke rumah siapa?” Tanya perempuan itu.

“Ke rumah saudara saya, mau silaturrahmi.” Jawab Sarmin dengan gugup.

Sebenamya Sarmin saat itu gugup, ia harus menjawab apa. Terpaksa lelaki itu menjawab ngawur. Padahal kebiasaan silaturrahmi bagi. Sarmin hanya masa lalu ketika ia masih tinggal di desa. Sejak lelaki itu menjadi pejabat dan tinggal di kompleks perumahan kaum berjuis, kebiasaan silaturrahmi perlahan mulai luntur.

Kereta api itu terus melaju meninggalkan sawah kering yang luas, menghampiri kawasan industri yang terus getol mencemari lingkungan dengan limbahnya. Setelah itu, perlahan, kereta memasuki kawasan ladang luas, lantas segera masuk ke kota. Kebingungan Sarmin mulai memuncak. “Ke mana aku harus pergi?” Kata Sarmin dalam hati.

Perlahan kereta tua itu berhenti di stasiun. Satu persatu para penumpang mengemasi barang-barangnya dan segera turun dari kereta. Para penumpang pun segera berdesak-desakan melewati pintu. Mereka berhamburan keluar bagai rombongan anak ayam yang dilepas dari kandangnya. Sarmin berjalan pelan. Tangan kirinya menarik koper besar warna hitam. Roda koper itu pun berputar mengikuti arah Sarmin melangkah. Sarmin tak menyadari bahwa ada sepasang mata sedang mengamati polah tingkahnya. Sepasang mata itu pun segera membuntutinya.

“Mau ke mana, Pak? Mari saya antar!” Kata lelaki tersebut.

“Tidak, terima kasihi” Jawab Sarmin tanpa menoleh sedikit pun. Sarmin terus berjalan. “

“Pak…pak…tunggu!” Teriak lelaki itu memanggil Sarmin.
Pak Sarmin pun menoleh ke belakang.

“Kalau tidak salah pak Sar…Sar…pak Sarmin, ya?” kata lelaki itu sambil mengumbar wajah riangnya. Spontan Sarmin terkejut begitu mendengar namanya disebut oleh lelaki itu. Mereka pun segera terlibat perbincangan asyik. Selang beberapa saat, temyata lelaki itu mengatakan bahwa Sarmin adalah mantan tetangganya dulu sebelum Sarmin pindah ke kota. Lelaki tukang ojek yang setiap hari mangkal di stasiun itu pun segera menawari pak Sarmin untuk bersedia diantar ke tempat tujuan, tetapi Sarmin menolak lantaran ia tidak mémpunyai uang. Akhimya tukang ojek itu pun rnerasa tersentuh hatinya dan bersedia mengantar Sarmin meski tanpa diberi upah.

Sepeda motor tua milik tukang ojek itu segera melaju menapaki jalan bebatuan. Knalpot sepeda itu menghhamburkan debu-debu di jalan. Dari kejauhan tampak serombanan orang sedang berjalan. Dari baris depan tampak empat orang sedang memikul keranda. Yah, saat itu mereka sedang bergotong royong memikul orang mati dan membawanya ke perkuburan. Pemandangan itu begitu menyentuh hati Sarmin.

Pemandangan itu mengajak Sarmin untuk terbang kembali mengingat-ingat ketika istrinya dulu meninggal di perumahan. https://www.google.com/search?q=FOTO+baju+bekasIa harus rela menghabiskan uang jutaan rupiah saat istrinya meninggal. Hal itu harus dilakukan oleh Sarmin lantaran di perumahan tersebut tak satu pun orang yang peduli dengan kondisi tetangganya. Jika tidak karena uang, tentunya mayat istri Sarmin akan membusuk.

SUMBER FOTO ILUSTRASI:
https://www.google.com/search?q=FOTO+baju+bekas

———–

*) Amin Mustofa lahir di Bojonegoro, 29 Agustus 1983. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini pernah menjadi wartawan majalah Gelanggang Mahasiswa Unisda Lamongan (2003) dan menjadi pemimpin redaksi majalah Gelanggang Mahasiswa (2004- 2007).

Karya tulisnya berupa cerpen dan artikel dimuat di Koran Radar Bojonegoro di antaranya, “Gombal” (2006), Profesionalisme Guru, Cukupkah dengan Portofolio? (2007), Sistem Gurui Guru untuk Pragmatis (2008), Pak dhe Kusmanto (2008), Di Balik Rencana Pemkab Bojonegoro Bangun Perpustakaan: Siapkan Pula Formula Penjaga Eksistensi (2010), dan Sambut Unas dengan Gembira (2014). Artikelnya juga dimuat di koran Jawa Pos, di antaranya; Menulis Puisi dengan Metode Kuantum (2008), Hentikan Curhat Bersama Anjas (2009), Protes Miyabi Jangan Berlebihan (2009), Dilema Sanksi Siswa: Kekerasan Atau pendidikan? (Suarabojonegoro.com, 2017).

Karya tulisnya berupa buku: buku antologi cerpen, Kamboja Menapak Mega, (Penerbit Pustaka Ilalang 2005 dan Penerbit Pustaka Intermedia 2014), Buku Pintar Bahasa Indonesia (Penerbit Lentera Ilmu Yogyakarta, 2006), dan modul Jurnalistik itu Asyik (2010), Buku Detik- Detik Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMK Enam Edisi (Edisi I 2014 s.d. Edisi VI 2019), Buku Terampil Menulis Karya Ilmiah Remaja (2018), Buku Antologi Cerpen Tuah Akik Panidin (2019), Dongeng Anak Jajanan Pasar: Pengenalan Jajanan Pasar dan Kearifan Lokal Budaya Bojonegoro pada Anak SD melalui Kisah Inpiratif (2019), dan buku “Penuntun Teknis Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik” (2020).

Penulis juga editor bahasa. Sampai Juni 2020 ini, sudah 170 judul buku karya penulis nasional (NTB, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Riau, Banten, Yogyakarta, Jateng, Jatim, dan dari Provisi lain di nusantara) yang dieditori dan sudah terbit. Email: aminmustofaoke@yahoo.co.id

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,