• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 16.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 085232841193
  • SMS/WA: 085232841193
  • Line : -
  • BBM : -
  • pustakaintermedia@yahoo.com
Terpopuler:

Cerpen “Karminto, Sarjana Ekonomi”

11 June 2020 - Kategori Blog

CERPEN KARYA: AMIN MUSTOOFA*)

Sore. Kulihat sinar matahari sudah kemerah – merahan. Sejak pagi tadi, aku baru mampu membuka kelopal mataku. Pagi tadi, memang aku mampu memaksakan diri untuk bangun dari tidur, tetapi hanya untuk melenyapkan suara jam bekerku yang berbunyi lantang, menusuk telingaku. Dengan segera, tubuhku kurebahkan kembali di atas kasur hingga sore ini.

Ah, mataku masih terasa ngantuk. Pegal masih terasa bersemayam di sekujur tubuhku. Perlahan, kupaksakan diri untuk bangkit dari tidur. Setelah kubersihkan muka di depan cermin, sejenak aku diam. Lantas aku tersenyum kecil. Kulihat kerutan garis – garis wajahku masih menyisakan sedikit ketampanan wajahku. Meski usiaku sudah tidak muda lagi.

Dua tahun sudah aku diwisuda. Itu berarti, dua tahun sudah namaku sudah bertambah dua huruf di bagian belakang lantaran aku menyandang gelar sarjana. Lengkapnya namaku Karminto, S.E, jika dlafalkan “ Karminto Sarjana Ekonomi.”

Sarjana ekonomi jurusan manajemen. Waw, gelar yang cukup keren yang membuatku bangga. Apalagi sewaktu aku mendapat undangan dari teman- temanku, namaku yang tercetak di undangan itu dibawa oleh tetanggaku, semua tetanggaku pasti akan mengetahui bahwa Karminto putra Wardiman, tokoh masyarakat yang cukup terpandang di kampung ini adalah seorang sarjana.

Kembali aku menatap wajahku di cermin ini. Ah, aku muak!
Huh, lupakan tentang gelarku.

Perasaan bangga terhadap gelar sarjana ekonomi kualami dulu sewaktu aku belum lulus kuliah, saat aku masih memakai jas almamater, saat statusku masih mahasiswa fakultas ekonomi. Kini aku sudah beberapa tahun lulus kuliah. Bagiku, membanggakan gelar bukanlah hal yang menguntungkan. Lebih baik aku memikirkan hal yang lain saja, bagaimana aku secepatnya mendapat pekerjaan sesuai bidangku, sebab aku sudah mulai bosan mendekam di kamar. Setiap hari aku hanya menonton TV.

Jika aku sudah bosan mondar mandir di rumah, dengan segera aku akan pegi ke kota, mampir bioskop dan melihat jadwal pertunjukan. Begitu aku mengetahui film yang menurutku cukup seru, aku pasti tidak akan ketinggalan untuk menontonnya. Aku akan datang lebih awal di bioskop tersebut dan tujuan mencari tempat duduk yang paling nyaman. Begitu tengah malam tiba, film telah usai, aku akan segera kembali pulang dan tidur hingga siang atau mungkin saat senja tiba aku baru bangun tidur.

Huh, membosankan!

Memang, berulang kali terlintas dalam anganku untuk segera mendapat pekerjaan. Yah, paling tidak, aku mampu menjaga gengsi ayahku sebagai tokoh masyarakat yang cukup terpandang di kampung ini. Tapi semua itu hanya sebatas angan.

Bosan.
Bosan.

“Jika aku terlalu memikirkan semua masalah itu, aku tidak jadi mati tua.” Itulah kalimat yang dikirim kawan lamaku lewat sms. Dengan dasar itu pula terkadang aku lebih nyaman dan enjoy saat mengingat-ingat tentang masa laluku.

Ah, tentu saja aku tidak begitu mudah melupakan masa laluku. Masa itu terlalu indah untuk kulupakan, masa sewaktu aku menjadi mahasiswa.

Karminto.
Siapa yang tidak mengenal namaku?

Mulai dosen, jajaran pimpinan fakultas, dekan, bahkan rektor hafal namaku. Bahkan sembilan puluh sembilan persen mahasiswa di kampusku semua mengenalku. Apalagi para mahasiswi yang cuakep, seksi, dan bahenol, mereka pasti mengenalku.

Ah, masa menjadi mahasiswa memeng sangat menyenangkan.

Kini saat aku sedang menutup cermin. Terkadang, dulu aku juga membenarkan perkataan para teman kuliahku bahwa meski kulitku lumayan gelap, tapi wajahku lumayan manis, bahkan dulu beberpa temanku sering nyletuk sambil mengajak bercanda bahwa tampangku cukup untuk dijadikan model merayu putri pak carik. Jika gadis tidak bisa kudapatkan, mungkin janda muda yang agak kaya masih mampu kurayu yang akhirnya dia pasti akan kesemsem padaku.

Apalagi sejak dulu beberapa temanku mengatakan bahwa aku berbakat mengolah kata, yang jika olahanku kusuhkan pada seorang wanita, pasti mereka akan jatuh cinta kepadaku. Padahal, bagiku aku biasa-biasa saja. Tetapi, memang perkataan para teman kuliahku dulu ada benarnya juga. Itu terbukti, Susan, keponakan rektor kampusku dulu rela kupacari.

Di antara sekian banyak cewek yang pernah kupacari, Susanlah satu-satunya cewek yang tahan lama. Eh, jangan berpikir ngeres dulu! Tahan lama maksudku Susan adalah cewek yang kupacari paling lama dibanding cewek-cewek lainnya.

Susan.

Ah, jika aku ingat cewek yang satu ini, terkadang aku ingin tertawa sendiri. Sebab dilihat dari tampangnya, cewek yang satu ini tidak termasuk dalam nominasi cewek idamanku.

Sewaktu aku masih menjadi mahasiswa, setiap aku mengikuti seminar ataupun acara kemahasiswaan lainnya, pasti Susan selalu nongol. Sampai perasaanku pernah berkata bahwa aku ingin muntah saat bertemu Susan. Aku memang sudah lebih dulu mengenal nama Susan sebelum cewek itu mengenalku. Hal itu wajar saja, sebab wanita itu bisa dikatakan berdarah biru, maksudku dia adalah keponakan rektor. Itulah keistemewaan Susan. Meskipun wajahnya pas-pasan, saat Susan mengutarakan cinta padaku, aku tidak menolaknya.

Di kampusku memang sudah ngetren seorang wanita mengutarakan cinta pada pria. Jika di kampungku mungkin, hal itu tidak akan terjadi. Tapi, dilingkungan kampusku, hal seperti itu bukanlah hal yang aneh.

Eh, aku kembali bercerita tentang Susan, mantan pacarku. Gadis itu tinggi badannya kurang lebih seratus enampuluh sentimeter. Berkulit gelap, rambutnya sebahu dan direbonding serta dicat kemerah-merahan. Pokoknya Susan cewek yang gaul deh.

Aku hobi membaca buku diperpustakaan kampusku. Aku memang tergolong aneh, sebab aku mahasiswa fakultas ekonomi, tapi saat aku membaca buku yang beraroma ekonomi, huh kepalaku terasa berputar hebat yang kemudian sempal dan jatuh di lantai. Rambutku akan terasa mbrodoli. Gigi-gigiku akan protol. Pusing. Dengan alasan itu aku sangat tidak suka dengan buku tetang ekonomi. Tapi entah mengapa aku memilih kuliah di fakultas ekonomi.

Aku memang sering mengunjungi perpustakaan, tapi yang kubaca buku-buku fiksi, terkadang beberapa teman kuliahku memberi julukan padaku mahasiswa fakultas ekonomi sastra. “ Huh fakultas yang tidak akan pernah dijumpai di perguruan tinggi manapun di belahan dunia, kecuali di kampusku. Satu – satunya mahasiswa yang ada difakultas ekonomi sastra adalah aku, Karminto, putra seorang tokoh masyarakat di kampungku.

Tapi, aku tidak peduli dengan julukan itu, sebab jika berkunjung ke perpustakaan, aku akan berkumpul dengan mahasiswi fakultas sastra. Siapa tidak mengenal mahasiswi fakultas sastra? Di fakultas itulah para artis di kampusku berkumpul. Sederet mahasiswi yang pernah kupacari, mayoritas mahasiswi fakultas sastra. Meskipun begitu, aku tidak akan bercerita tentang semua pacaraku, cukup beberapa cewek saja, di antaranya Susan.

Sebelum mengutarakan cinta padaku, cewek yang satu ini memang tingkahnya cukup aneh. Ketika itu, aku bertemu dengannya empat mata di perpustakaan. Susan mengajakku berkenalan. Karena hari sudah sore, Susan mengajaku ke kantin. Aku dan dia makan di kantin bersama. Tentu saja aku sengaja membiarkan Susan memesankan makanan untukku. Sebab, jika nanti aku yang memesan makanan, itu berarti konsekuensi logisnya aku harus membayar. Padahal uang di dompetku kian menipis.

Memang, beberapa hari aku mendapat kiriman dari ayahku, tapi tak terasa uang itu telah habis kugunakan untuk membeli pulsa, menonton bioskop, pergi ke toko buku bekas untuk memborong buku-buku fiksi dan menonton pertunjukan teater. Sisanya masih di dompetku. Bulan ini, aku juga harus bayar kos. Yang pasti, saat ini, dompetku kempes-pes. Karena itulah politik bercintaku harus kugunakan. Aku makan di kantin bersama cewek. Tentu saja bukan aku yang bayar, tapi cewek tersebut yang harus membayarnya. Dengan modal apa? Tentu saja dengan modal tampangku. Sambil menyantap hidangan, Susan mengajakku berbincang-bincang.

“Oh, ya aku lupa. Siapa tadi namamu?”

Tanya Susan padaku sambil tersenyum kecil. Senyumnya terasa manis dan mengurangi kadar kehitaman kulitnya.

“Ya, Tuhan, Susan…Susan…. Kamu di perpustakaan tadi kan sudah bertanya namaku, sekarang kok tanya lagi?”

“Iya, sorry please, aku benar-benar lupa!”

“Oke de kalau benar-benar lupa, aku ulangi kembali. Namaku Karminto. Kembali Karminto, anak seorang tokoh masyarakat di kampungku”

“Aa….ha….ha..

“Lho, kok tertawa? Apa yang lucu?”
Tanyaku dengan heran.

“Ah…ha….ha Karminto, Karminto, tidak ada yang lucu kok. Aku hanya ingin tertawa saja. Kamu kuliah di fakultas dan jurusan apa? Semester berapa?”

Sebelum aku selesai menjawab pertannyaan Susan, tiba- tiba ia berdiri. Ia menuju ke kasir kantin itu. Saat itu aku pura-pura melarang Susan. Aku berpura-pura akulah yang akan membayar makanan ini. Tapi dengan segera cewek itu menolaknya. Karuan saja aku senang. Sehabis itu dengan segera aku dan cewek itu meninggalkan kantin.

Hari berikutnya, sms dari Susan selalu menyerbu HP-ku. Aku sengaja tidak begitu sering membalas sms dari Susan dengan alasan untuk menghemat biaya, ternyata cewek itu malah berganti strategi. Ia mulai meninggalkan kebiasaan meng-sms-ku. Kali ini ia langsung menelponku. Waw, bagiku untuk menelpon lewat HP tentu kegiatan yang akan membuat kantongku jebol. Tentu saja lain jika yang menelpon adalah Susan. Hal itu berlangsung lama. Susan pun mulai nekat mendatangi kos-kosan ku.

Cewek itu bolak-balik ke kos-kosanku. Kami menjadikan tempat kosku sebagai arena berpacaran. Saat ibu kos sedang tidak ada di rumah, Susan mulai berani berbuat nekat, wanita itu mulai berani menyuguhiku hal-hal yang aneh. Ketika itu, ia masuk ke kamar tidurku. Tentu saja aku kaget. Bagaimana nanti jika ibu kos mengetahui bahwa ada seorang cewek masuk kamar kosku? Wah tempat kosku akan kiamat. Sandal gapyak milik ibu kos yang terbuat dari kayu itu akan melayang dan mengedor pintu kamarku. Mulut ibu kos akan ngoceh bak burung betet yang sedang lapar. Huh, mengerikan.

“He, Susan apa-apaan kamu? kamu kok berani datang ke sini?”

“Ssst…ssst! Tenang saja. Ibu kos dan keluarganya sedang ke luar kota,” Kata Susan.

Dengan segera cewek itu menutup kamarku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukanya.
….

HP-ku berbunyi. Dengan segera akun menggapainya. Ternyata sms dari Santi, pacar lamaku. Aku lupa, kemarin aku sudah ada janji dengan Santi untuk pergi ke toko buku bekas. Karena di sampingku ada Susan, tentu saja aku tidak membalas sms dari Santi. Lagi pula Susan masih di dekatku. Aku kawatir nanti jika Susan mengetahui bahwa aku mempunyai cewek simpanan, Santi. Bisa-bisa Susan akan melabrakku bagai anjing penjaga rumah yang menyalak karena ada maling yang hendak masuk rumah yang di jaganya,. Hiiii mengerikan!

Berulang kali Susan mendatangi kos-kosanku. Cewek yang satu ini memang seperti memiliki telik sandi di kos-kosanku. Sebab, saat ibuku kos bersama keluarganya sedang tidak ada di rumah, ternyata Susan pun segera datan ke rumahku.

Huh, seringnya cewek itu masuk di kamarku menjadikan aku mulai bosan dengan cewek itu. Lagi pula cewek yang satu ini tergolong cewek yang cukup berani di banding cewek-cewk yang pernah kupacari. Bahkan pernah suatu hari ia pernah berkata yang nyeleneh padaku. Ia mengajaakku menikah.

Mendengar perkataan Susan tersebut, badanku terasa modar. Mana mungkin statusku masih mahasiswa semester sepuluh, belum mendapat pekerjaan yang mampu mendatangkan uang . eh . . .malah diajak nikah. Lagi pula Susan empat tahun lebih tua usianya daripada aku. Tidak pernah terbayang dalam anganku mempunyai istri lebih tua dariku.

Berulang kali aku mencoba berbagai macam strategi untuk memutus ikatan cinta dengan Susan. Tapi ceweku yang satu ini memang bsa dikatakan tahan banting. Ia terus memburuku. Maka tidak ada jalan lain kecuali memanfaatkan cewek yang satu ini. Jika selama ini aku hanya memnfaatkan tubuhnya saja, itu hal yang kurang bagiku. Sebagai kompensasi yang adil atas kesediaanku memacari Susan, gadis ini harus membayar mahal. Aku ingat ketika awal semester dulu, kiriman uang dari ayahku telah habis. Sedangkan aku harus membayar herregetrasi, bayar semester dan tetek mbengek lainnya yang jika ditotal jumlahnya lumayan banyak juga. Tentu saja kepalaku bisa pecah saat itu. Tetapi karena ada Susan di sampingku, semua urusan keuanganku jadi beres.

Aku cukup merayu Susan, ternyata uang Susan pun keluar. Kuliahku gratis deh. Kiriman uang dari ayahku pada bulan berikutnya dapat kugunakan untuk membayar hutangku di kantin

Karena itulah berpacaran dengan Susan aku mampu bertahan lama, sebab Susan merupakan cewek yang paling mudah dibohongi. Dapat dinikmati tubuh dan uangnya. Wajah pas – pasan tidak apa – apa yang pasti dompetnya tidak pas – pasan

Susan juga dapat kuperalat untuk menarik beasiswa di kampusku. Memang untuk mendapat beasiswa syaratnya agak ribet. Selain IPK harus selangit, calon penerima beasiswa harus aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan. Bagiku, itu hanya syarat formal. Meski aku tidak memilki dua kriteria tersebut, aku masih dapat menggunakan jurus lain, lobi. Waw, kulakukan jalan singkat dan pasti dapat. Dengan merayu Susan, otomatis Susan akan memesankan beasiswa untukku lantaran Susan adalah keponakan rektor.

Dulu saat aku mulai menyusun skripsi, aku mulai malas mondar – mandir pulang. Pergi ke rental komputer. Saat itu, ide cerdasku pun tumbuh kembali, merayu Susan, eh, ternyata Susan bersedia membelikan komputer yang kemudian kutaruh di kamar kos. Waktu yang seharusnya kegunakan untuk menyusun skripsi pun masih longgar. Waktuku yang masih luang kugunakan untuk menulis cerpen dan novel dengan pertimbangan jika nanti aku lulus sarjana ekonomi ternyata aku tidak dapat kerja, aku cukup menjadi pengarang. Jika aku bisa mengarang novel, novelku akan kutawarkan pada penerbit. Waw, Karminto sarjana ekonomi, penulis novel fantastis!

Sudah beberapa jam tatapan mataku kutanam di monitor komputerku . sedangkan jemari tanganku bolak balik menekan tombol key board. Mataku sudah mulai terasa capek. Penggungku pun seolah berontak. Angin melabrakku karena sudah merasa nyeri duduk sekian lama dikursi ini. Kupingku terasa panas mendengar musik instrumentalia kitaro matsuri yang bersumber dari pelantang suara mungil warna hitam yang mejeng di sebelah kiri CPU komputerku.

Sudah beberapa tema yang coba kuangkat, tetapi baru beberapa paragraf, pikiranku sudah mentok. Aku kehabisan ide, sial. Sebenarnya ketika komputerku baru kunyalakan tadi aku sudah menemukan ide yang menurutku cukup menarik juga, yaitu tentang Sarinah.

Cerita yang kutulis tidak terlalu sulit dipahami, ceritanya berawal dari seorang muda bernama Sarinah yang masih bisa dikatakan cukup cantik. Jika meminjam istilahnya kang Parno, blantik sapi di kampungku, Sarinah cuakep dan suedep plus bahenol.

Dalam cerita yang kutulis, Sarinah belum begitu lama menjanda. Aku tidak menjelaskan lebih detail penyebab perceraian wanita itu. Sarinah tergolong wanita yang tidak begitu gemar merias diri, tetapi entah mengapa wajah Sarinah tetap sedap dipandang. Sekilas, wajah wanita itu mirip Nadine Candrawinata, putri Indonesia yang pernah mengikuti kontes pemilihan miss universe. Tentu saja itu jika seseorang dipandang terus tentu sangat beda

Sarinah memilki aroma yang khas, aroma rokok, jika seseorang duduk bersebelahan dengan wanita itu pasti tidak akan mencium bau wangi, tapi bau rokok. Yah, rokok memang bisa dikatakan parfum khas wanita itu.

Sarinah memang bukan orang besar, tetapi ia cukup tenar. Setiap siang dan malam para lelaki selalu mendatanginya. Para lelaki pasti menggodanya dan Sarinah pun membalas godaan terebut dengan menebar senyum.

Eh, para pembaca jangan salah tafsir, meski Sarinah pada muda beraroma rokok yang selalu membalas godaan lelaki dengan senyuman , tetapi wanita itu bukan wanita nakal. Ia bukan lonthe yang biasa menjajakan tubuhnya di jalanan setiap malam yang sering diuber oleh petugas keamanan yang ternyata petugas tersebut juga suka mencolak- colek mencari gratisan, bukan, bukan seperti itu. Karakter tokoh Sarinah tidak kugambarka demikian.

Sarinah kugambarkan sesosok janda beraroma rokok dan kopi lantaran setiap hari waktunya dihabiskan di warung kopi depan rumahnya. Di warung tersebut Sarinah mengantungkan hidupnya.

Sarinah memang bukan wanita berpendidikan tinggi. Suatu hari, pernah orang- orang yang nyangkruk di warungnya bertanya tentang pendidikan formal yang pernah dijalani Sarinah, wanita itu menjawab bahwa ia pernah bersekolah tetapi tidak sampai lulus SD. Meskipun demikian, untyuk menghitung harga sebatng rokok Surya, secangkir kopi, dua pisang goreng, dan lainnya, Sarinah tidak membutuhkan kalkulator untuk menghitungnya. Sekejap, pikiran Sarinah langsung bisa menjumlah semua harga, seoleh dalam pikiran Sarinah ada semacam kalkulator canggih.

Terkadang, para pengunjung warungnya heran pada Sarinah yang serbatahu tentang kondisi perekonomian dalam negeri. Padahal, banyak sarjana ekonomi yang tidak begitu tahu tentang kondisi perekonomian dalam negeri. Banyak sarjana yang hanya pandai bicara tetapi ketika diberi kesempatan untuk memberi inovasi bagaimana meningkatkan perekonomian negeri eh mereka malah keteteran. Omong kosong. Semua itu merupakan pekerjaan yang cukup sulit meski mereka sarjana ekonomi yang telah menelan puluhan sks mata kuliah. Termasuk bagiku.

Begitu juga sarjana lainya. banyak di antara mereka yang hanya mampu menghafal buku, tetapi begitu disuguhi masalah di masyarakat, eh mereka malah puyeng.

Orang-orang yang biasanya nongkrong di warung Sarinah terkadang sering nyeletuk bahwa untuk apa kuliah kalau hanya menghasilkan sarjana-sarjanaan? Dapat ijazah sarjana? Bukan jaminan hidup enak. Aku menulis novel tentang Sarinah lantaran aku terinspirasi diriku sendiri, sarjana ekonomi tapi terbelit masalah ekonomi yang akhimya aku melarikan diri pada dunia fiksi. Sampai pada cerita ini, kulihat novel tentang Sarinah yang kutulis sudah lumayan panjang. Kuhitung sudah beberapa halaman kuarto. Tetapi lagi-lagi ideku mentok.

Begitu jernariku kembali menyentuh tombol keyboard, telingaku menangkap suara orang sedang mengetuk pintu kamar kosku. Aku segera bangkit dari depan komputer dan membuka pintu. Kulihat Susan datang dengan dandanan necis dan menor. Saat itu bedak yang menempel di wajahnya cukup tebal juga. Menurut prediksi ku kira-kira bedaknya setebal setengah senti meter. Di bibirnya tampak goresan lipstik yang tampak merah merona.

“Ada apa, Susan?” Tanyaku.

“Kita jalan-jalan, yuk!” Kata Susan.

“Ke mana?”

“Ke supermarket.”

Kembali cewek itu kubohongi. Kukatakan bahwa besok aku harus membawa skripsiku ke dosen pernbimbing. Jadi hari ini aku harus menyelesaikan bab empat. Ternyata dengan alasan itu Susan terima. Dasar cewek tolol.

Hari berikutnya kugunakan cara lain untuk menghindari Susan. Salah satunya dengan cara berpindah kos. Saat itu Susan tidak pernah menemukanku karena memang
aku sengaja rnenghindarinya. Aku bosan.

Ah, untuk apa memikirkan Susan? Cewek itu kuanggap hanya masa lalu. Kini aku harus berpikir keras bagaimana caranya aku mendapat kerja, Saat ini hidupku serbasusah. Mernang benar gelar sarjana ekonomi plus ijazah dan setumpuk sertifikat telah
kumiliki, tetapi aku masih minder tatkala aku melamar kerja di perusahaaan. Sebab, di
antara sekian banyak perusahaan yang memasang lowongan kerja, semuanya menginginkan selain sarjana ekonomi, calon pelamar juga harus berpenglaman.
Huh, sialan!

Saat ini, ayahku terus memburuku agar aku secepatnya mendapat pekerjaan dengan pertimbangan gengsi. Nama ayahku akan tercoreng di masyarakat lantaran aku, anaknya, sarjana ekonomi tapi kerjaku hanya mendekam di kamar.

Di kampungku aku adalah satu-satunya sarjana. Para pemuda di kampungku hanya mampu sekolah sampai SMA. Tak heran, sejak aku pulang dari kampus, banyak sekali yang datang padaku. Mereka berkonsultasi padaku tentng teori ekonomi, teori berdagang dan masalah lainnya. Mereka menganggap aku orang yang mengerti segalanya. Padahal sarjana kan juga manusia belum tentu tahu segalanya. Untuk menjaga gengsi, tentu saja aku mengarang hal yang aneh-aneh untuk menjawab pertanyaan mereka, lagi pula aku kan juga seorang pengarang pasti tidak kehabisan akal untuk merangkai cerita. `

SUMBER FOTO ILUSTRASI: https://www.google.com/search?q=FOTO+MAHASISWA+&tbm=isch&ved

———
*) Amin Mustofa lahir di Bojonegoro, 29 Agustus 1983. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini pernah menjadi wartawan majalah Gelanggang Mahasiswa Unisda Lamongan (2003) dan menjadi pemimpin redaksi majalah Gelanggang Mahasiswa (2004- 2007).

Karya tulisnya berupa cerpen dan artikel dimuat di Koran Radar Bojonegoro di antaranya, “Gombal” (2006), Profesionalisme Guru, Cukupkah dengan Portofolio? (2007), Sistem Gurui Guru untuk Pragmatis (2008), Pak dhe Kusmanto (2008), Di Balik Rencana Pemkab Bojonegoro Bangun Perpustakaan: Siapkan Pula Formula Penjaga Eksistensi (2010), dan Sambut Unas dengan Gembira (2014). Artikelnya juga dimuat di koran Jawa Pos, di antaranya; Menulis Puisi dengan Metode Kuantum (2008), Hentikan Curhat Bersama Anjas (2009), Protes Miyabi Jangan Berlebihan (2009), Dilema Sanksi Siswa: Kekerasan Atau pendidikan? (Suarabojonegoro.com, 2017).

Karya tulisnya berupa buku: buku antologi cerpen, Kamboja Menapak Mega, (Penerbit Pustaka Ilalang 2005 dan Penerbit Pustaka Intermedia 2014), Buku Pintar Bahasa Indonesia (Penerbit Lentera Ilmu Yogyakarta, 2006), dan modul Jurnalistik itu Asyik (2010), Buku Detik- Detik Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMK Enam Edisi (Edisi I 2014 s.d. Edisi VI 2019), Buku Terampil Menulis Karya Ilmiah Remaja (2018), Buku Antologi Cerpen Tuah Akik Panidin (2019), Dongeng Anak Jajanan Pasar: Pengenalan Jajanan Pasar dan Kearifan Lokal Budaya Bojonegoro pada Anak SD melalui Kisah Inpiratif (2019), dan buku “Penuntun Teknis Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik” (2020).

Penulis juga editor bahasa. Sampai Juni 2020 ini, sudah 170 judul buku karya penulis nasional (NTB, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Riau, Banten, Yogyakarta, Jateng, Jatim, dan dari Provisi lain di nusantara) yang dieditori dan sudah terbit. Email: aminmustofaoke@yahoo.co.id