• Jam Buka Toko: 08.00 s/d 16.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 085232841193
  • SMS/WA: 085232841193
  • Line : -
  • BBM : -
  • pustakaintermedia@yahoo.com
Terpopuler:

Perihal Menulis Seperti Bicara

11 July 2017 - Kategori Blog

Oleh: AS Laksana

Menulis, ketika dilakukan secara benar, tak beda dengan orang bercakap-cakap.
Laurence Sterne (1713–1768), penulis Inggris kelahiran Irlandia; karyanya Tristram Shandy

Ada sebuah email dari seorang kawan yang saya terima berkaitan dengan gagasan “menulis seperti kita bicara”. Ia menulis cukup panjang yang intinya adalah pernyataan keberatannya terhadap gagasan tersebut. Menurutnya, “Bahasa tulis, bagaimanapun, berbeda dari bahasa lisan.”

Untuk hal itu saya sepakat. Ketika masih menjadi wartawan, menemui narasumber dan mewawancarainya, saya selalu meyakini bahwa omongan narasumber tidak bisa dialihkan begitu saja ke bentuk tulisan. Anda harus mengeditnya sehingga kelisanan narasumber menjadi tulisan yang enak dibaca. Anda harus menata kalimat yang melompat-lompat, membuang kalimat yang tidak selesai, membereskan pernyataan yang menggantung, dan sebagainya yang diperlukan agar “percakapan” tersaji beres di hadapan pembaca.

Saya kira anjuran untuk menulis seperti bicara dimaksudkan agar kita bisa lebih lancar menyuarakan apa yang hendak kita tulis dan tidak bolak-balik mengkritik diri sendiri atau menimbang-nimbang kalimat hebat seperti yang harus kita tulis. Persis seperti kita bicara saja. Dalam wawancara, narasumber bisa mengeluarkan sejumlah gagasan tanpa berpikir keras bagaimana cara mengungkapkan gagasan-gagasannya.

Atau anda lebih suka menulis seperti orang yang kesulitan menemukan kata-kata besar? Anda ingin menulis seperti orang yang kesulitan menulis?

Namun, kalaupun anda berkeberatan dengan anjuran menulislah seperti anda bicara, ada satu hal penting yang patut diperhatikan. Para penulis yang baik selalu terasa jernih. Kenapa? Karena mereka bisa menyampaikan dengan baik gagasan mereka dan mereka tahu cara terbaik menyampaikan gagasan. Kita bisa membaca buku tebal dengan antusias dan sebaliknya kita bisa tersendat-sendat dan kelelahan membaca sebuah artikel pendek di koran atau majalah.

Itu terjadi karena pada buku tebal tersebut kita menikmati semacam dialog menarik dengan penulisnya, sementara pada artikel pendek yang melelahkan kita disuguhi atraksi-atraksi yang membingungkan. Saya kira hal itu bukan melulu soal gaya penyampaian; itu juga soal cara pandang yang berbeda tentang apa yang disebut tulisan bagus–dan ini sangat individual sifatnya.

Anda bisa menulis “Poin krusial dalam domain politik kita hari ini adalah terbentuknya retakan-retakan di tingkat vertikal yang berimbas pada perpecahan dalam skala yang massif di level horisontal.” Atau anda bisa memilih kalimat seperti ini: “Masalah utama perpolitikan kita hari ini adalah terjadinya keretakan di tingkat elite yang mengakibatkan perpecahan di kalangan masyarakat bawah.”

Pada kalimat pertama, yang membuat anda mungkin merasa seperti berhadapan dengan pamain sirkus, anda akan kesulitan membayangkan seperti apa poin krusial itu. Kalimat kedua bisa anda lahap lebih mudah. Anda seperti berhadapan dengan teman sendiri, yang mengajak anda bercakap-cakap dalam tuturan yang jelas dan mudah anda cerna. Dan anda serta merta mendapatkan gambaran mengenai situasi yang dimaksudkan dalam tulisan tersebut.

Mungkin jenis kalimat kedua itu yang dimaksud dengan menulis seperti bicara. Dan saya yakin anda akan lebih lancar untuk menulis kalimat kedua ketimbang jika anda harus “membangun makna melalui kerja keras dalam skala massif” untuk menghasilkan kalimat pertama. Berapa kali backspace kira-kira yang anda butuhkan untuk menulis kalimat seperti itu?

Sejauh ini, ketika anda menulis seperti anda menulis, anda mungkin akan sering tersendat-sendat, atau sebentar-sebentar terserang writer’s block. Ketika anda menulis seperti anda menulis, menulis terasa menjadi pekerjaan yang berat.

Sekarang, bagaimana jika anda menulis seperti anda bicara? Dalam waktu tidak sampai dua jam anda akan menghasilkan tulisan paling sedikit sepuluh halaman. Mari kita melihat cara kerja wartawan. Mereka mewawancarai narasumber, merekam wawancara tersebut, memindahkan rekaman wawancara ke bentuk tulisan. Wawancara satu jam saja sudah akan menghasilkan tulisan mungkin lebih dari 10 halaman transkripsi. Dan itu adalah draft yang siap diedit menjadi tulisan jadi.

Maksud saya, anda bisa menulis cepat dengan meniru cara kerja wartawan. Tulisan anda akan mengalir lebih lancar ketika anda menulis dengan menjawab daftar pertanyaan, sebagaimana yang dilakukan oleh wartawan ketika mewawancarai narasumbernya.***